Muhasabah Kebangsaan (9): Sejarah, Paham Takfiri, dan Pemberontak Bertopeng Ayat

Radikalisme

Oleh: Al-Zastrouw

Penggunaan ayat suci sebagai topeng untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah, termasuk pemerintahan yang berbentuk Khilafah Islamiyah (KI), sudah terjadi sejak zaman pasca-wafatnya Rasulullah SAW yang dikenal dengan sebutan era Khulafaur Rasyidin. Salah satu contohnya adalah sejarah terbunuhnya Khalifah ke 3 dan ke 4, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Tersebutlah nama Abdullah bin Saba‘, seorang oposan dan pemberontak yang terus melakukan provokasi terhadap ummat Islam untuk melakukan makar dan melawan semua kebijakan Khalifah Utsman. Provokasi tersebut, tentu saja dilakukan dengan menggunakan dan memanipulasi ayat-ayat Quran.

Seperti dicatat oleh para ahli sejarah Islam, ketika Khalifah Utsman mengeluarkan kebijakan membuat ladang khusus untuk onta-onta sedekah, yang terlarang untuk umum, para oposan ini menentang dengan menggunakan QS Yunus 59 sebagai alat legitimasi.

Berlagak sebagai pembela Islam dan penegak ayat suci, mereka mendatangi sang Khalifah. Dengan suara lantang dan garang mereka menuduh. “Engkau membuat tanah terlarang yang dibatasi. Apakah engkau telah mendapatkan izin dari Allah untuk melakukan hal ini? Engkau telah melakukan tindakan yang mengada ada terhadap hal yang tidak ditentukan Allah.”

Dengan tenang Khalifah Utsman menjawabnya. “Ayat tersebut diturunkan dalam konteks yang lain, bukan dalam masalah seperti ini. Umar bin Khatthab sudah melakukan hal ini sebelumnya. Dia membatasi tanah khusus untuk onta-onta zakat, lalu aku menambahnya untuk onta-onta sedekah yang semakin banyak”.

Para oposan yang sudah terpenjara teks dan mabuk kekuasaan ini tidak dapat menerima penjelasan yang diberikan oleh Khalifah Utsman. Mereka terus mengobarkan permusuhan dan fitnah pada pemerintah yang sah dengan mengobral ayat-ayat Quran, meski pemerintahan sudah berbentuk Khilafah. Fitnah dan provokasi ini  berujung pada pembunuhan Khalifah ke-3 tersebut.

Hal yang sama juga terjadi pada Khalifah Ali bin Abi Thalib. Beliau wafat di tangan Abdurrahman ibn Muljam. Ia adalah seorang Muslim yang digambarkan oleh sejarawan Islam, Adz-Dzahabi, sebagai sosok ahli ibadah, hafal dan ahli baca Quran, hingga mendapat julukan al-Muqri’.

Pemahaman keagamaan tekstual skrip tulis telah menimbulkan sikap keras pada diri Ibn Muljam, sehingga menganggap Sayyidina Ali sebagai orang kafir yang layak dibunuh karena dianggap tidak menjalankan hukum Islam. Ibn Muljam bisa jadi adalah salah seorang pendukung pandangan “pengkafiran” (Takfiri) paling awal dalam sejarah Islam.

Semangat membunuh Sayyidina Ali ini makin berkobar ketika Ibn Muljam bertemu seorang perempuan cantik yang juga berniat makar karena demdam pada sang Khalifah. Perempuan cantik ini bernama Qathami binti Syijnah. Dia dendam pada Sayyidina Ali karena suadaranya terbunuh dalam perang Nahrawan. Perempuan ini mau dinikahi Ibn Muljam dengan syarat dia harus membunuh Sayyidina Ali.

Dengan semangat keislaman yang tekstual puritan dan didorong oleh semangat cinta yang membara, Ibn Muljam semakin mantap niatnya “berjihad” membunuh Sayyidina Ali yang dikafirkan dengan alasan beliau “tidak menerapkan hukum Allah“. Pemahaman ibn Muljam ini berdasar pada tafsir tekstual terhadap Surat Al-Maidah, ayat 44, “Barang siapa yang tidak menggunakan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (QS Al-Maidah: 44).

Dalam kitab sejarah Islam disebutkan, saat membunuh Ali bin Abu Thalib, ibn Muljam berkata, “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah, hukum bukan milikmu dan orang-orangmu (wahai Ali). Kemudian dia mengutip QS Al-Baqarah, 207. “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridlaan Allah, dan Allah maha penyantun kepada hambaNya“.

Dengan mengutip ayat ini ibn Muljam merasa bahwa tindakan membunuh Sayyidina Ali merupakan pengorbanan dirinya untuk mendapat ridha Allah dan menjadi hamba yang disantuni Allah. Persis dengan pandangan para teroris yang dikenal saat ini. Tindakan ini menjadi cikal bakal tidak kekerasan yang dilakukan oleh kaum radikal intoleran. Mereka menggunakan ayat-ayat suci untuk makar dan melakukan tindak kekerasan terhadap kelompok lain yang tidak sepaham. Tindakan ini terus berulang dalam sejarah Islam hingga saat ini.

Para ulama telah melakukan upaya membendung politisasi ayat yang melahirkan sikap intoleran dan destruktif ini. Mereka menyusun berbagai argumen dan pemahaman teologis yang juga bersumber dari Al Quran dan Hadits untuk melawan tindakan kekerasan atas nama agama ini. Paham keagamaan tekstual puritan, radikal, dan intoleran ini terus menggerogoti pemikiran dan kesadaran ummat Islam. Seperti virus dan racun menggerogoti daya tahan tubuh manusia.

Seperti halnya melawan virus dan racun di dalam tubuh, maka untuk melawan pemahaman tekstual puritan yang intoleran dan penuh kekerasan diperlukan daya tahan diri yang kokoh melalui penanaman ideologi Islam yang rahmatan lil’alamin.

Hal ini bisa dilakukan dengan cara, pertama, mensosialisasikan pemahaman keagamaan yang toleran, manusiawi, dan penuh kedamaiaan secara massif, sistematis, dan terus menerus. Kedua, membangun keaadaran kritis masyarakat terhadap penggunaan simbol, ritual, dan ayat ayat suci dalam praktik politik melalui data-data sejarah. Sebagaimana disebutkan di atas, secara historis ayat-ayat dan simbol agama sangat rentan dimanipulasi dan dijadikan topeng untuk memenuhi ambisi politik dan tindak kekerasan.

Ketiga, melakukan tindakan tegas terhadap upaya penyebaran virus dan racun kekerasan agama. Ini perlu dilakukan sedini mungkin, sebelum virus dan racun tersebut terlanjur sudah menyebar ke masyarakat sehingga makin sulit dikendalikan.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, tindakan deteksi dini dan memberangus virus ini merupakan keniscayaan. Karena virus radikal dan intoleran yang penuh dengan tindakan kekerasan ini bukan saja dapat mengancam kebhinekaan bangsa Indonesia, tetapi juga kemanusiaan.

Tindakan tegas perlu dilakukan sebelum bangsa ini hancur terjebak konflik yang tidak terkendali. (*)