#YangGajiKamuSiapa, Ini Klarifikasi Kominfo Soal ASN Pilih 02

Kominfo Next

Kastara.ID, Jakarta – Terkait dengan pemberitaan terhadap Menkominfo yang berkaitan dengan lontaran pertanyaan terhadap salah satu ASN dalam acara internal Kominfo pada hari Kamis (31/1) di Hall Basket Senayan, Jakarta, Plt. Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu memberikan beberapa penjelasan sebagai berikut seperti yang dilansir di laman resmi Kominfo, Jumat (1/2):

  1. Dalam salah satu bagian acara sambutan, Menkominfo meminta masukan kepada semua karyawan tentang dua buah desain Sosialisasi Pemilu yang diusulkan untuk Gedung Kominfo dengan gaya pengambilan suara.
  2. Semua berlangsung dengan interaktif dan antusias sampai ketika seorang ASN diminta maju ke depan dan menggunakan kesempatan itu untuk mengasosiasikan dan bahkan dapat disebut sebagai mengampanyekan nomor urut pasangan tertentu.
  3. Padahal sebelumnya, Menkominfo sudah dengan gamblang menegaskan bahwa pemilihan tersebut tidak ada kaitannya dengan pemilu. Penegasan tersebut terhitung diucapkan sampai 4 kalimat, sebelum memanggil ASN tersebut ke panggung.
  4. Dalam zooming video hasil rekaman, terlihat bahwa ekspresi Menkominfo terkejut dengan jawaban ASN yang mengaitkan dengan nomor urut capres itu dan sekali lagi menegaskan bahwa tidak boleh mengaitkan urusan ini dengan capres.
  5. Momen selanjutnya adalah upaya Menkominfo untuk meluruskan permasalahan desain yang malah jadi ajang kampanye capres pilihan seorang ASN di depan publik. Terlihat bahwa ASN tersebut tidak berusaha menjawab substansi pertanyaan, bahkan setelah pertanyaannya dielaborasi lebih lanjut oleh Menkominfo.
  6. Menkominfo merasa tak habis pikir mengapa ASN yang digaji rakyat/pemerintah menyalahgunakan kesempatan untuk menunjukkan sikap tidak netralnya di depan umum. Dalam konteks inilah terlontar pertanyaan “Yang Gaji Ibu Siapa?”. Menkominfo hanya ingin menegaskan bahwa ASN digaji oleh negara sehingga ASN harus mengambil posisi netral, setidaknya di hadapan publik.
  7. Atas pernyataan “yang menggaji pemerintah dan bukan keyakinan Ibu”, “keyakinan” dalam hal ini bukanlah dimaksudkan untuk menunjuk pilihan ASN tersebut, melainkan merujuk kepada sikap ketidaknetralan yang disampaikan kepada publik yang mencederai rasa keadilan rakyat yang telah menggaji ASN.
  8. Dalam penutupnya sekali lagi Menkominfo menegaskan bahwa posisi ASN yang digaji negara/pemerintah harus netral dan justru menjadi pemersatu bangsa dan memerangi hoaks.
  9. Kami menyesalkan beredarnya potongan-potongan video yang sengaja dilakukan untuk memutus konteks masalah dan tidak menggambarkan peristiwa secara utuh.
  10. Demikian penjelasan dari kami, agar dapat menjadi bahan untuk melengkapi pemberitaan rekan-rekan media.
Baca Juga:  Wujudkan Akuntabilitas Pejabat Lewat Bimtek Berbasis E-LHKPN

Sebelumnya beredar tagar #YangGajiKamuSiapa ramai dibahas netizen Tanah Air terkait pemberitaan atas pernyataan Menkominfo Rudiantara kepada salah satu aparatur sipil negara (ASN).

Berawal dari lontaran pertanyaan Rudiantara dalam pemilihan desain stiker sosialisasi Pemilu yang akan ditempelkan di Gedung Kominfo.

Dalam proses pemilihan desain, Rudiantara memungut suara pilihan pegawai dengan meminta seluruh hadirin menyebutkan secara verbal pilihan mereka, apakah memilih desain nomor 01 atau desain nomor 02.

Namun dalam prosesnya, Rudiantara meminta dua aparatur sipil negara (ASN) Kominfo naik ke atas panggung untuk menjelaskan, alasan kenapa memilih desain pilihan mereka. Kedua ASN yang dipanggil merupakan pegawai yang memilih desain nomor 01 dan desain nomor 02.

Baca Juga:  BPJS Ketenagakerjaan Buka Layanan 175 dan LCT

Rudiantara meminta pegawai yang memilih nomor 02 untuk menjelaskan alasan pilihan desain favoritnya. Tak diduga, sang pegawai tersebut malah mengatakan alasan memilih nomor 02 adalah yakin dengan visi-misinya.

Rudiantara seketika memotong penjelasan pegawai yang memilih nomor 02 dan menegaskan pilihan desain ini jangan dikaitkan dengan Pilpres atau pencoblosan.

Simak transkrip video dari akun Youtube Kemkominfo TV pada menit 3:22:00 yang dinilai Rudiantara menanyakan alasan pegawai pemilih desain nomor 02:

Rudiantara: Ibu yang coblos nomor 2 sini, sini. Ibu yang nomor 2 atau 1?, ya sini maju. Mohon jangan ada yang merekam dan diviralkan, nanti jadi hoax nih. Tadi yang nomor 1 mana sini. 

Ibu kenapa memilih nomor ini (tunjuk desain nomor 2). 

ASN pilih 2: Bismillah, mungkin terkait keyakinan atas visi misi yang disampaikan nomor 2.(hadirin riuh tertawa). Yakin saja. 

Rudiantara: Bu, ini tidak boleh dikaitkan dengan capres. Milih yang itu atau ini (menunjuk desain) 

ASN pilih 2: (tertawa). Oh gambarnya? milih nomor 2 pak. Sebagai warga negara yang baik memang kita harus memastikan dulu tempat, harus tahu ke depannya bagaimana yang untuk, Pemilu serentak ini. Kita harus pastikan aplikasi yang kita pakai untuk pemilihan pemilunya.

Rudiantara: Ibu nggak jujur, Ibu tak jujur, maaf. Karena pesan (desain) semua sama, yang beda warna dan desain. Saya katakan tadi tidak boleh dikaitkan dengan Pilpres. 

Ibu tadi menyatakan karena keyakinan saja. Ini nggak ada urusan dengan keyakinan tadi. Bedanya warna dan desain. Saya tanya alasannya apa? oh kan. 

Rudiantara: Mana yang satu, cepat ayo (memanggil ASN pilih nomor 01). Kenapa alasan milih nomor 1. 

ASN pilih 01: Warnanya lebih cerah dan berwarna pak. 

Rudiantara: Nah itu lebih pas, karena kita bicara soal warna dan desain. Tidak soal keyakinan. Apalagi ini bicara mengenai platform. Jadi saya terima alasan nomor 1 dan tidak bisa terima alasan nomor 2. Tidak bicara soal desain dan ini. 

(kemudian kedua ASN turun dari panggung)

Baca Juga:  Berantas Jual Beli Jabatan, Jadi Tema Penting Debat Keempat

Tiba-tiba Rudiantara memanggil ASN pilih nomor 2 dari panggung. Sedangkan ASN pilih nomor 2 sedang menuju ke kursinya.

Rudiantara: Bu, bu yang bayar gaji Ibu siapa? pemerintah atau siapa? Bukan yang keyakinan Ibu kan? Ya sudah terima kasih. 

Teman-teman tadi sudah disampaikan kita sebagai Kominfo jangan larut hanya kepada Pilpres. Justru kita harus menjadi penyatu dari perbedaan-perbedaan. Jadi tolong titip teman-teman ya, bahwa kita mempunyai pilihan, haknya diatur. Tapi kita justru sebagai Kominfo harus bisa menyatukan perbedaan pendapat. Kita harus perangi yang membuat perbedaan-perbedaan yang dalam artian dalam bentuk hoaks, berita palsu dan sebagainya. Teman-teman semua, kembali ini bukan berkaitan dengan masalah Pilpres atau apa, karena teman-teman banyak yang memilih yang kiri (desain nomor 2), saya minta jangan dikaitkan dengan Pilpres. Saya, bapak dan ibu semua masih digaji Kominfo, oleh pemerintah. (rfr)