Beranda Headline Berita Sri Jayawardenapura Kotter

Sri Jayawardenapura Kotter

Oleh: Jaya Suprana

SETAHU saya Ibukota Sri Lanka adalah Kolombo. Ternyata saya (agak) keliru. Sri Lanka memiliki dua ibu kota. Ibukota ekonomi Sri Lanka de facto Kolombo, namun Ibukota kepemerintahan Sri Lanka yang resmi sebenarnya Sri Jayawardenapura Kotte, terletak sekitar delapan kilometer di barat daya kota Kolombo.

Sebelum Kolombo didirikan oleh kolonialis Portugis di bumi Sri Lanka, justru Sri Jayawardenapura merupakan Ibu Kota Kerajaan Kotte pada abad XIV sampai dengan XVI.

Kelirumologi
Semula saya duga Rahwana adalah tokoh jahat di dalam kisah Ramayana. Ternyata saya agak keliru juga. Rahwana adalah raja Alengka yang kini disebut sebagai Sri Lanka, sangat dihormati oleh warga Sri Lanka. Semula saya duga Sri Lanka adalah sebuah negara terbelakang ekonomi. Ternyata saya kembali keliru.

Kini Sri Lanka bersama Maladiva merupakan dua negara yang menduduki posisi teratas pada Human Development Index dengan penghasilan per kapita tertinggi di Asia Selatan. Dari 142 negara, Sri Lanka menduduki posisi ke 45 dalam pendidikan dasar dan kesehatan, urutan ke 32 dalam pengembangan bisnis UKM, nomor 42 dalam inovasi dan nomor 41 dalam efisiensi pasar.

Dalam daftar World Giving Index, Sri Lanka menduduki posisi ke lima berkat masyarakatnya memang suka beramal.

Infrastruktur
Jaringan jalan Sri Lanka masa kini terdiri dari 35 A-Grade jalan raya dan controlled-access highways. Jawatan Kereta Api Sri Lanka memiliki jalur sepanjang 1.477 kilometer. Empat pelabuhan alam berada di Kolombo, Galle, Trincomallee, dan Hambantota pada masa Perang Dunia II merupakan pelabuhan strategis terpenting bagi sekutu Inggris di Asia Selatan.

Kini Sri Lanka memiliki pusat pendidikan tinggi serta pusat penelitian-pengembangan dirgantara untuk mengembangkan teknologi satelit dan misil. Pada tahun 2012, dengan menyandang nama Rahwana I, satelit perdana buatan Sri Lanka mengangkasa ke angkasa luar.

Demografi
Sri Lanka memperoleh kemerdekaan pada tahun 1948, meski kemudian sempat dihantui Perang Saudara berkelanjutan selama 26 tahun yang baru berakhir pada tahun 2009, setelah Angkatan Bersenjata Sri Lanka berhasil menumpas Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE).

Mayoritas penduduk Sri Lanka masa kini adalah etnis Sinhalese dengan minoritas etnis Tamil yang memegang peran penting pada sejarah Sri Lanka. Kaum Vedda serta etnis Melayu, Indonesia dan China merupakan bagian hakiki dari demografi Sri Lanka.

Ekonomi
Menurut Dubes RI untuk Sri Lanka, I Gusti Ngurah Ardiyasa, perdagangan Indonesia surplus terhadap Sri Lanka yang mengimpor produk semen, arang kelapa, karet, batu bara, tembakau, kertas, paperboard, produk plastik, mie instant dari Indonesia. Produk ekspor utama Sri Lanka adalah rempah-rempah dan busana.

Di masa kini industri pariwisata mulai berperan sebagai primadonna ekonomi Sri Lanka. Dengan memiliki delapan situs yang diakui UNESCO sebagai warisan kebudayaan dunia bahkan Sri Lanka sempat diposisikan New York Times sebagai destinasi utama wisata kebudayaan yang wajib dikunjungi para wisatawan kebudayaan. Para penggemar shopping memuaskan syahwat-belanja produk busana terbuat dari bahan cotton di mal-mal serta pasar tradisional Kolombo. Minuman air kelapa dan hidangan kepiting senantiasa siap memenuhi selera para wisatawan kuliner.

Sayang citra pariwisata gemilang Sri Lanka senasib dengan Bali sempat nahas tercemar angkara murka kekerasan yang dilakukan kaum teroris. Pada hari raya Paskah  21 April 2019, para pelaku bom bunuh diri menewaskan 259 warga, termasuk 45 wisatawan asing, dan melukai lebih dari 500 warga di tiga gereja Katolik di Kolombo, Negombo, dan Batticaloa serta di tiga hotel mewah di Kolombo. (*)

** Penulis adalah pembelajar kebudayaan dan peradaban dunia.

- Advertisement -

TERBARU

Pasokan Pangan Untuk DKI Jakarta Dipastikan Aman Akhir Tahun Ini

Kastara.ID, Jakarta - Jelang akhir tahun 2019, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta telah melakukan koordinasi dan...