Bagi Yang Ingin Jokowi Menang!

Oleh: Errot Djarot

GENCARNYA deklarasi dari sejumlah elemen bangsa memberi dukungan kepada paslon nomor urut 01 Jokowi–Ma’ruf, membuat saya terpanggil untuk menulis artikel kali ini dengan judul di atas. Pasalnya, hingar bingar dan luapan euforia mendukung pasangan calon nomor urut 01 ini, sering kali dibarengi meningkatnya optimisme berlebihan dari para pendukung, bahwa kemenangan seakan sudah pasti di tangan. Mungkin juga demikian halnya dengan para elite di sirkel 1 istana dan pimpinan partai pengusung Paslon nomor urut 01.

Bila keyakinan ini menjadi kenyataan, tidak menjadi masalah dan patut disyukuri oleh seluruh elemen pendukung Paslon nomor urut 01. Hanya yang menjadi masalah, siapa yang bisa menjamin hasil yang positif dipastikan akan terjadi? Karena dalam sejumlah peristiwa pilkada sebagai acuan, walau tidak bisa dijadikan patokan apple to apple, setidaknya situasi anomali politik di kalangan massa pemilih bisa diangkat menjadi subyek bahasan. Dalam kaitan ini, massa di wilayah floating mass yang sangat menentukan ke mana mereka bergerak dalam menjatuhkan pilihan, tidak mudah untuk dapat dibaca dan dipastikan.

Itulah sebabnya gencarnya acara dukung mendukung dan deklarasi di sana-sini belum merupakan jaminan bahwa keberhasilan akan terwujud. Bahwasanya mempunyai pengaruh psikologis pada massa pemilih yang masih mengambangkan pilihannya, tentu ada. Nah, sejauh mana efektifnya? Di sinilah masalahnya. Karena amnesia di kalangan massa pasar politik di negeri ini begitu tinggi. Seorang tokoh yang minggu lalu dipuja dan disanjung setinggi langit, bisa berakhir dengan dicaci maki dan di-bully pada minggu berikutnya. Hanya dipicu oleh masalah yang sepele atau bersifat sangat pribadi (privat). Apalagi ada masalah yang langsung menohok kepentingan maupun perasaan atau harapan dan wilayah mimpi indah mereka para pendukung (publik).

Baca Juga:  Count Down WIBK, 102 ke Pilpres - Timur Tengah Vs Jawa Tengah

Bergesernya selera mendukung sang calon, sering terjadi perubahan tak terduga hanya karena disebabkan oleh hal-hal yang tidak masuk dalam hitungan rasional politik para petinggi partai maupun peneliti. Apalagi peneliti bayaran yang tugasnya hanya menghibur sang bohir pemberi obyekan. Peristiwa pada Pilkada DKI yang lalu merupakan salah satu fenomena yang cukup mewakili apa yang saya maksudkan di sini. Walau tentunya faktor-faktor lain turut andil menjadi penyebab terjadinya mimpi besar yang terkoyak dan terkapar.

Setidaknya ada sejumlah kondisi dan keharusan yang perlu dijadikan catatan penting oleh para pendukung Paslon nomor urut 01. Para pendukung harus secara agresif melakukan kontrol atau mengawasi dengan ketat terhadap perilaku dan kinerja orang-orang yang dikategorikan sebagai mereka yang berada di ring satu sirkel istana. Jangan sampai terjadi lagi bisikan-bisikan yang hanya membuat massa pendukung menjadi  bimbang dan bahkan kecewa. Seperti bisikan untuk melepas bebas tanpa syarat Abu Bakar Ba’asyir. Gaduh soal serangan terhadap pemerintah Rusia yang cukup membuat para pendukung yang terpelajar dan memahami etika diplomatik menjadi tidak nyaman. Juga penampilan orang ring satu di televisi yang lebih layak diberikan kepadanya stempel pokrol bambu ketimbang mulut perwakilan istana, dan sejenisnya.

Hal yang juga penting menjaga agar tidak lagi ada pernyataan dan ucapan para pembantu presiden yang tidak menguntungkan. Seperti menyanyikan lagu kebangsaan di bioskap pada awal pertunjukan film. Juga heboh masalah polemik pertanyaan Pak Menteri..”siapa yang memberi gaji ibu..?” yang diputar balik lewat editan jahil. Kalau toh terjadi pengeditan oleh pihak lawan politik, hal itu pun harus dipahami sebagai kurang sensitifnya sang tokoh akan kondisi tahun politik yang sangat diwarnai oleh peradaban kaum Machiavelli. Artinya, memberi ruang kepada lawan untuk mempelesetkan, mengedit, dan memutar balik isi dan maksud ucapan sang tokoh, masuk dalam kategori kenaifan yang tidak diperlukan.

Baca Juga:  Debat Capres-Cawapres 2019: 2000 Personel TNI-Polri Siap Mengamankan

Yang juga mengkhawatirkan ketika obsesi tentang pemilih dari kubu milenial menjadi berlebihan. Kehadiran Erick Thohir sepertinya sangat erat terkait dengan isu ini. Bukan bermaksud menyangsikan kemampuan Erick dalam hal menata manajemen sebuah perhelatan akbar. Masalahnya pengenalan, penghayatan, dan pengalaman empirik di wilayah kinerja institusi politik merupakan hal yang tidak bisa dipaksakan untuk dapat dicerna secara instan sesegera mungkin. Sejenius apa pun seseorang, pengalaman sebagai guru, merupakan hal yang bersifat aksiomatik dalam hal ini. Sehingga dukungan kepada kinerja Erick oleh seluruh anggota tim pemenangan, bersifat mutlak diperlukan. Masalahnya, ewuh pakewuh dan rasa kecewa para senior yang merasa terlangkahi, bisakah segera disingkirkan?

Di sisi lain, gerakan kampanye paslon nomor urut 01 ini ibarat layangan, kondisinya melayang terbang berat sebelah. Hampir 80 persen bahkan lebih, hanya mengandalkan Jokowi sebagai figur yang layak jual, begitu sangat terasa. Andai Ma’ruf Amin mampu menggeliat dalam dua bulan terahir ini, Insya Allah mimpi dan harapan para pendukung yang justru semakin aman jumlahnya ini, akan mendekati kenyataan. Akan sangat merugikan bila kehadiran Ma’ruf Amin justru malah menjadi liabilitas bagi tim kampanye Paslon nomor urut 01 ini.

Baca Juga:  Selayang Pandang: Jokowi vs Sandi, Mengapa?

Terakhir, saya coba menjawab persoalan mengapa saya katakan bahwa seremoni dukung mendukung, walau cukup memberi efek psikologis secara positif, tapi tetap bukan merupakan faktor penentu kemenangan. Ada dua masalah serius yang perlu dijadikan catatan. Pertama, apakah para pendukung peserta deklarasi yang jumlahnya ratusan ribu ini bersedia turun melakukan door to door campaign? Karena hal inilah yang terasa sangat menonjol dilakukan  oleh kubu Paslon nomor urut 02.

Yang juga sangat penting, apakah pada hari H pencoblosan yang merupakan ‘hari kejepit nasional’ (Harpitnas), sehingga memungkinkan orang mendesain hari liburnya selama 5 hari penuh, sudah dilakukan terhadapnya antisipasi dan cara menggiring seluruh pendukung mau hadir di Tempat Pemungutan Suara (TPS)? Terutama kaum muda dan para millenial di strata kelas menengah yang signifikan jumlahnya. Karena hal ini sangat kecil kemungkinan terjadi di kubu oposisi yang terbaca sudah sangat mendambakan dan fanatik menjaga semangat untuk menang.

Artikel ini ditulis mengingat berdasarkan kajian berbagai survei, tingkat elektabilitas petahana yang masih perlu didongkrak hingga melampaui batas 60 persen agar berada di zona cukup aman, walau belum bersifat mutlak. Kerja keras dan kerja cerdas, masih sangat diperlukan oleh kubu Paslon nomor urut 01, tanpa kompromi! (watyutink/*)