Untukmu Saudaraku Para Wartawan: “Di Mana Hatimu?”

Oleh: M. Nigara

BISMILLAHIRROHMANNIRROHIM.

Saudaraku, para wartawan Indonesia, di mana saja engkau berada. Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan hidup hingga hari ini. Diberi kesehatan, dan insyaa Allah juga diberi kesempatan bertaubat oleh Allah SWT. Aamiin.

Saudaraku, engkau boleh suka atau tidak suka padaku. Engkau boleh marah atau memakiku. Aku akan menghormati semua keputusanmu.

Dari hati yang paling dalam, aku mohon maaf jika tulisan ini akan menyinggung dan menyakitimu. Demi Allah, aku sesungguhnya hanya ingin kita, tugas kita, nurani kita, kejujuran kita, tidak mati suri atas nama apa pun. Aku tahu, langkah itu amat berat bagimu, tapi aku tetap ingin bertanya padamu.

Baca Juga:  Terima Kasih Emak-Emak, Now or Never!

Di Mana Nuranimu?

Saudaraku para wartawan….
Menurutmu, wajarkah kematian lebih dari 500 orang untuk satu event dan satu momen yang bernama Pemilu dan Pilpres 2019 ini? Tidakkah engkau tergelitik berpikir ada sesuatu yang aneh di situ?

Dulu, tepatnya 29 Mei 1985, di stadion Heysel, Brussel, Belgia. Engkau pasti ikut mengutuk kisah kelam itu. Aku ingatkan kisahnya. Ya, waktu itu laga final Piala Champions Eropa, Liverpool vs Juventus.

Terjadi kerusuhan antar suporter. Sebanyak 36 orang meninggal dan ribuan orang dari 60 ribu penonton, terluka.

Sebagai wartawan, khususnya yang seusia aku atau yang generasinya di bawah aku sedikit, kita sama-sama mengutuk kejadian itu. Bahkan ketika akhirnya Federasi Sepakbola Inggris, dihukum dua tahun, kita semua bersorak.

Baca Juga:  Untuk Mereka Yang Telah Berbuat Curang Dalam Pilpres

Tapi, untuk kematian KPPS, Polisi, saksi, dan petugas lainnya meninggal di Pemilu dan Pilpres kali ini, demi negeri kita tercinta ini, engkau membisu? Bukankah angka pupusnya 500 nyawa saudara kita ini, bahkan kini lebih, itu sangat banyak? Bukankah naluri kita sebagai wartawan telah diasah untuk melakukan investigasi? Bukankah kita biasa lekat dengan logika investigating reporting?

Ada apa denganmu saudaraku? Mengapa engkau seolah menerima kematian tak wajar itu sebagai sesuatu yang biasa saja? Mengapa engkau seolah-olah menutup diri? Ada apa saudaraku? Ada apa PWI, AJI, IJTI, dan engkau semuanya?

Tidakkah engkau malu oleh dr. Ani Hasibuan yang hatinya tergerak untuk melakukannya seorang diri. Ani telah menyingkirkan segala risiko yang bakal ia terima. Tidakkah engkau malu oleh ratusan dokter yang mengajukan tuntutan keberatan atas kematian masal itu? Mereka didampingi pengacara Elza Syarif, resmi mengajukan hal itu pada penguasa.

Baca Juga:  Demi Allah, Kita Bukan Menggugat Jadwal Ajal!

Engkau, saudaraku wartawan, sedang apakah hingga tampaknya tak berempati sama sekali? Beruntung ada tvone yang masih mau melakukan hal itu, meski tekanan ke tvone makin keras.

Sekali lagi, di manakah nuranimu saudaraku para wartawan? (*)

*Wartawan Senior