Kastara.ID, Jakarta – Kubu Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo tampak memperebutkan Khofifah Indar Parawansa baik sebagai cawapres maupun Tim Pemenangan.

Kondisi tersebut dinilai Pengamat Komunikasi Politik M Jamiluddin Ritonga sebagai hal yang aneh karena Khofifah bukanlah sosok yang menonjol baik dari sisi kinerja maupun elektoral.

“Dari sisi kinerja, Khofifah terkesan biasa saja. Tidak ada yang monumental yang dihasilkan Khofifah selama menjadi Gubernur Jawa Timur dan Menteri Sosial,” ungkap pengamat yang kerap disapa Jamil ini kepada Kastara.ID, Selasa (10/10) pagi.

Dari sisi elektoral, lanjutnya, Khofifah juga biasa saja. Elektoralnya masih lebih rendah bila dibandingkan dengan Sandiaga Uno, Erick Thohir, Ridwan Kamil, dan Agus Harimurti Yudhoyono.

“Karena itu, tidak ada alasan yang rasional membuat Khofifah jadi rebutan. Khofifah bukanlah sosok yang sim salabim akan dapat mendongkrak elektabilitas Prabowo atau Ganjar,” tandas pengamat yang juga mantan Dekan Fikom IISIP Jakarta ini.

Jadi, Prabowo dan Ganjar sudah saatnya memposisikan Khofifah sebagai sosok biasa. Khofifah bukan sosok istimewa yang secara otomatis dapat memenangkan Prabowo atau Ganjar.

“Meskipun dari kedekatan, Khofifah tampaknya lebih ke Megawati Soekarnoputri. Faktor kedekatan itu bisa jadi membuat Khofifah lebih nyaman ke Ganjar,” imbuh Jamil.

Namun demikian, selain faktor kedekatan, arah angin dukungan Joko Widodo ke Prabowo atau Ganjar juga akan mempengaruhi keputusan Khofifah. Bila Khofifah membaca dukungan Jokowi ke Prabowo, ada kemungkinan ia akan merapat ke Koalisi Indonesia Maju (KIM). Begitu sebaliknya.

“Jadi, ke mana Khofifah akan berlabuh tampaknya bergantung arah dukungan Jokowi kepada Prabowo atau Ganjar. Faktor kedekatan dengan Megawati tampaknya bukan sebagai faktor penentu utama,” jelasnya. (dwi)