Diapresiasi, 60 Tahun Kerja Sama Bilateral Dengan Jepang

Japan Bank for International Cooperation

Kastara.id, Denpasar – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) – Japan Bank for International Cooperation (JBIC) menggelar seminar bertema ‘How to Mobilize Private Investment for Green Infrastructures Promoting Intraregional Connectivity’ di Ayodya Hotel, Bali, Kamis (11/10).

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk membahas pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan.

Pada tahun 2030 dunia diperkirakan akan menghadapi dampak terhadap lingkungan atas pembangunan industri yang sangat besar.

“Berbicara tentang infrastruktur yang ramah lingkungan membawa kita pada dua tujuan akhir yang berkaitan, yaitu membuat negara makmur namun tetap dapat mengatasi dampak pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan,” ujarnya.

Baca Juga:  Revolusi Industri Digital, Pemerintah Fokus Pemerataan Akses Telekomunikasi

Infrastruktur merupakan pondasi dari pertumbuhan ekonomi. Tetapi, pada saat yang sama tidak mungkin pemerintah dapat mengkompensasi perkembangan ekonomi terhadap penurunan kualitas lingkungan hidup yang dapat mengorbankan masa depan generasi muda.

“Indonesia sendiri telah mengutamakan lingkungan dan perubahan iklim pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2015-2019,” tukas Menkeu.

Menkeu juga menyebutkan pemerintah telah mengalokasikan anggaran terkait perubahan iklim yang terus ditingkatkan. Tahun 2016 sebesar Rp 73,2 triliun, tahun 2017 sebesar Rp 81,8 triliun, dan ditingkatkan dengan tajam di tahun 2018 sebesar Rp 121,45 triliun.

Namun demikian, dana APBN saja tidak akan mampu mencukupi. Oleh sebab itu diperlukan investasi dari sektor swasta.

Baca Juga:  Wisudawan PKN STAN Diminta Jaga Integritas dan Profesionalisme

Satu alternatif instrumen keuangan yang telah disiapkan oleh Kemenkeu adalah Green Sukuk. Sejak diluncurkan pada awal tahun, instrumen ini telah menarik banyak investor.

Penempatan dana akan digunakan pada berbagai proyek ramah lingkungan seperti energi terbarukan, transportasi publik, bangunan rendah karbon, manajemen air dan sampah, serta ekowisata.

“JBIC telah menjadi partner kerja Indonesia yang strategis. JBIC telah memberikan sebuah kerja sama yang sangat baik terkait kapasitas teknik di bidang pembiayaan infrastruktur,” kata Menkeu di seminar yang juga memperingati 60 tahun kerja sama Bilateral Indonesia dengan Jepang ini.

JBIC, lanjutnya, telah berkontribusi pada pembiayaan proyek infrastruktur di Indonesia dalam pembangunan pembangkit listrik, kereta api, maupun jalan tol. Pemerintah sangat menghargai komitmen dan perkembangan yang sangat bagus dari proyek-proyek JBIC.

Baca Juga:  Energi Terbarukan Jadi Alternatif untuk Memperkuat Ekonomi

Pemerintah pun akan terus meningkatkan kerja sama ini dan menjadikan JBIC rekan kerja yang penting dalam pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan.

Sebagai penutup, Menkeu mengatakan bahwa tidak akan ada satu jenis pembiayaan ramah lingkungan yang cocok di semua negara. Setiap kebijakan serta pilihan investasi harus mampu memenuhi kebutuhan negara tersebut.

Pada kesempatan ini Menkeu mengharapkan adanya ide-ide inovasi pembiayaan yang mampu membuka berbagai keuntungan dari infrastruktur ramah lingkungan yang mampu memberikan manfaat jangka panjang. (mar)