Muhasabah Kebangsaan (10): Ketika Musim “Hantu Gentayangan” Tiba

Oleh: Al-Zastrouw

Bagai musim buah yang panen setiap tahun sekali, isu kebangkitan PKI selalu muncul setiap tahun di bulan September, khususnya minggu terakhir menjelang awal Oktober bersamaan dengan peringatan tragedi kebangsaan tahun 1965.

Sebagaimana layaknya musim panen tiba, pasti ada pihak yang bersuka cita menikmati hasil panen: para tengkulak dan pedagang yang  memasarkan hasil panen, para calo dan juru asak (pengais sisa-sisa hasil panen) yang menangguk rejeki di musim panen. Tapi ada pihak lain yang sengsara dan menderita karena hanya menerima limbah dan sampah hasil panen.

Banyak yang berpendapat bahwa isu musiman kebangkitan PKI ini hanyalah semacam hantu gentayangan. Meski banyak juga yang meyakini bahwa kebangkitan PKI adalah nyata, faktual, dan kongkrit, sehingga harus ditanggapi secara serius dan penuh kewaspadaan.

Jika dicermati, isu PKI ini sebenarnya lebih mirip dengan hantu. Hantu itu makhluk abstrak yang digunakan untuk menakut-nakuti orang, terutama dalam suasana gelap. Meskipun abstrak, tapi hantu diyakini adanya, bahkan beberapa orang ada yang mengaku pernah melihat wujudnya yang mengerikan. Dan orang-orang phobia biasanya lebih sering melihat sosok hantu yang menakutkan itu.

Sebenarnya tidak hanya hantu PKI yang (di)bangkit(kan) dan bergentayangan di era reformasi. Dalam suasana yang penuh kebebasan dan terang benderang ini kita juga melihat bangkitnya hantu-hantu DI/TII, PRRI/Permesta yang gentayangan di ruang kebangsaan Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui DI/TII, PRRI/Permesta adalah gerakan pemberontakan  terhadap NKRI, seperti halnya PKI. Karena dianggap melakukan pengkhianatan terhadap NKRI maka kelompok pemberontak itu diberangus, dimatikan, dan jasadnya dikubur di bawah semangat kebangsaan Indonesia yang berdasar Pancasila.

Ketika usulan pencabutan tap MPRS XXV, tentang pembubaran PKI dan pelarangan ajaran Komuniseme, Marxisme, dan Leninisme di Indonesia, dan munculnya berbagai kelompok “kiri” dianggap sebagai indikasi kebangkitan PKI, maka munculnya usulan pembentukan Khilafah, usulan kembali ke Piagam Jakarta dan munculnya berbagai kelompok intoleran yang menggunakan simbol dan mengatasnamakan agama sebenarnya bisa dilihat sebagai indikator dan bukti yang terang benderang bangkitnya hantu DI/TII dari liang kuburnya.

Dalam perspektif kebangsaan, munculnya kedua isu dan gerakan tersebut sama-sama membahayakan integritas dan bangunan kebangsaan Indonesia; karena sama-sama mengancam dan menggerogoti pondasi dan ideologi negara Pancasila.

Yang menarik, meski sama-sama mengancam integritas bangsa, tapi hantu komunisne lebih banyak menyedot perhatian dan menguras tenaga dibanding hantu DII/TII yang juga jelas dan nyata wujudnya. Ini terjadi karena kebangkitan hantu DII/TII dibungkus dengan simbol agama.

Bisa dikatakan, hiruk pikuk dan kegaduhan yang terjadi saat ini merupakan cermin pertarungan hantu dari jasad-jasad pemberontak NKRI yang sudah terkubur di masa lalu. Sebagai hantu tentunya mengalami transformasi bentuk dan tampilan sehingga tidak sama persis dari wujudnya asalnya. Tapi ruh dan spiritnya tetap sama: yaitu mengganti dasar negara.
Untuk melawan hantu-hantu masa lalu yang gentayangan itu maka cara paling efektif adalah menjadikan Pancasila sebagai pijakan dalam merespon dan menyikapi ulah hantu-hantu gentayangan tersebut serta para calo yang menanfaatkannya.

Ini artinya harus ada revitalisasi Pancasila melalui penyegaran (reinvigorating) terhadap pemahaman Pancasila yang lebih kontekstual dan fungsional. Harus diakui, di antara para hantu itu juga sedang melakukan perebutan makna dan pemahaman Pancasila sebagai legitimasi untuk menyembunyikan kepentingan masing-masing.

Melemahnya Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara merupakan titik masuk hantu-hantu dan membuat mereka bebas gentayangan merasuki kesadaran jiwa anak bangsa. Jika kondisi seperti ini diteruskan maka bangsa ini akan terseret dalam konflik yang bisa merobek keutuhan bangsa.

Dalam hal ini rasanya kita perlu belajar dan membuka kembali secara cermat dan mendalam tentang nilai-nilai serta kearifan yang dicontohkan oleh para pendiri bangsa dalam merawat keberagaman

Tanpa sikap ini, bangsa Indonesia akan terus disibukkan oleh perdebatan yg tanpa arti. Dan perdebatan seperti ini akan terus terulang setiap musim hantu tiba. (*)