Selamat Datang Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)

UIII

Oleh: Sirozi

ALHAMDULILLAH, dengan dilantiknya Professor Komaruddin Hidayat sebagai Rektor, keberadaan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) semakin nyata adanya. UIII akan melengkapi 58 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang sudah ada dan beberapa Perguruan Tinggi BHMN yang sudah berjalan.

Karena proses pendiriannya yang cepat dan sosoknya yang bongsor, paling tidak dilihat dari status kelembagaan dan rencana anggaran, maka tidak heran ada yang melihat UIII seperti “Bayi Ajaib”. Apapun nick name yang kita berikan, UIII adalah amanah besar dari negara yang dititipkan kepada Kemenag. Cara dan kemampuan kita dalam mengemban amanah ini akan sangat besar pengaruhnya terhadap citra dan reputasi Kemenag dalam bidang pendidikan tinggi.

Karena itu perlu kiranya kita, keluarga besar Kemenag, menyamakan persepsi dan menyatukan langkah kita dalam menyambut kehadiran UIII.

Baca Juga:  Wapres dan Sejumlah Menteri Rapat Bahas Aset RRI di UIII

Melihat dan menilai keberadaan UIII tidak bisa sepenuhnya menggunakan kacamata PTKI pada umumnya. Dari penjelasan yang saya dengar dan dokumen yang saya baca, UIII adalah sebuah proyek sangat strategis, untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi dunia untuk kajian keislaman, bukan sekedar untuk pengembangan IPTEK, perluasan akses pendidikan tinggi, dan penyiapan SDM pembangunan, sebagaimana tujuan lembaga-lembaga pendidikan tinggi pada umumnya di Indonesia.

Sebenarnya, harapan yang dititipkan kepada UIII untuk menjadi pusat destinasi studi Islam dunia  sudah dititipkan di semua PTKI, khususnya UIN yang saat ini berjumlah 17 dan tersebar di berbagai wilayah NKRI. Tetapi, kelihatannya kemampuan UIN untuk memenuhi harapan tersebut masih sangat terbatas. UIN masih harus berkutat dengan kebutuhan sarpras, perluasan akses, dan pengembangan kelembagaan. Hingga saat ini, baru lima dari 17 UIN Terakreditasi A dan empat dari lima tersebut ada di pulau Jawa.

Baca Juga:  Strategi Komarudin Hidayat Pasca Dilantik Sebagai Rektor UIII

Kita sering gregetan mengamati dinamika perkembangan kajian Islam di dunia. Islam Indonesia yang memiliki begitu banyak sumber daya manusia yang berkualitas dan bereputasi dunia ternyata belum mampu berkontribusi secara maksimal dalam dinamika perkembangan pemikiran Islam di dunia. Sehingga, khazanah sejarah, tradisi, budaya, dan pemikiran Islam Indonesia yang sangat kaya dan unik belum dapat dinikmati oleh masyarakat dunia.

Dalam hal ini, kita harus mengakui bahwa kita masih tertinggal dari negara-negara Muslim yang jauh lebih kecil, seperti: Mesir, Iran, Maroko, Turki, dan Yordania. Kenapa, misalnya, pemikiran dan pesan keagamaan yang begitu penting dan berpengaruh harus muncul dari “Amman Messages”, bukan dari “Jakarta Messages” atau “Yogyakarta Messages” atau “Surabaya Messages”?

Baca Juga:  Strategi Komarudin Hidayat Pasca Dilantik Sebagai Rektor UIII

Tentu tidak mudah menjawabnya, tetapi yang pasti, dalam hal pemikiran dan ide-ide keagamaan pada umumnya dan keislaman khususnya, Islam Indonesia masih perlu banyak berbenah. Dan, pembenahan itu kita harapkan bisa dimulai secara kelembagaan, sistematis, dan berkelanjutan melalui UIII dan PTKI lainnya.

Kita doakan kiranya Professor Komaruddin Hidayat yang akrab dipanggil Mas Kom, bisa menakhodai dan menghantarkan UIII menjadi pusat destinasi studi Islam dunia. Aamiin yaa Rabbal aalamiin. (*)

*Rektor UIN Palembang