Kastara.ID, Jakarta – Perolehan suara Ganjar yang tidak sesuai dengan perolehan suara partai pengusungnya tentu tidak mengejutkan.

Hal itu diungkapkan Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul Jakarta, M Jamiluddin Ritonga yang disampaikannya kepada redaksi Kastara.ID, Kamis (15/2) siang.

Menurut Jamil, ada dua penyebabnya. “Pertama, pemilihan capres lebih pada ketokohannya. Karena itu, orang memilih partai tertentu tidak selalu linier juga memilih capres yang diusungnya,” papar Jamil.

Atas dasar itu, menurutnya, wajar saja bila suara PDIP tinggi sementara suara Ganjar jauh di bawahnya. Ketokohan Ganjar tidak sekuat partainya.

“Dua, Ganjar sejak awal hanya moncer di media sosial, bukan di dunia realitas sebenarnya. Karena itu, wajar saja bila hasil yang diperoleh Ganjar tidak semoncer di dunia maya,” imbuh Jamil yang juga mantan Dekan Fikom IISIP Jakarta ini.

Jadi, lanjutnya, realitas dunia maya tidak selamanya mencerminkan dunia sebenarnya. “Akibatnya, Ganjar layak menjadi presiden di dunia maya, tapi no di dunia sebenarnya,” pungkas Jamil. (dwi)