Beranda Headline Berita Menanti Mahkamah Konstitusi di Jalan Allah...

Menanti Mahkamah Konstitusi di Jalan Allah…

Oleh: M. Nigara

“SIDANG ini disaksikan oleh Allah!” begitu kata Anwar Usman, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) saat membuka sidang sengketa pilpres 2019, Jumat pagi (13/6) di Jakarta. “Saya tegaskan, saya tidak takut pada siapa pun kecuali pada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Untuk itu, saya dan MK tidak bisa diintervensi oleh siapa pun juga!” katanya lagi.

Dua kalimat itu, insyaa Allah akan menjadi benteng keadilan dan kejujuran bagi bangsa Indonesia. Maklum, saat ini sangat sulit mencari lembaga yang benar-benar bisa menegakkan keadilan dan kejujuran.

Bambang Widjojanto, Ketua Tim Prabowo-Sandi, juga mengutip hadist Bukhari dan Muslim bernomer 6788/1688. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkhutbah: ‘Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum), namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh, jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.’

Kata pembuka dari kedua belah pihak itu bermakna jelas. Jalan Allah-lah yang akan diambil dalam sidang kali ini. Dan sebagai orang-orang yang mengaku beriman, khususnya yang beragama Islam, harus yakin bahwa pengadilan ini akan berjalan dengan sungguh-sungguh. Tidak asal-asalan dalam memutuskan hasilnya. Artinya, perselingkuhan di balik yang terlihat itu, insyaa Allah tidak ada lagi.

Tapi, waspada tetap penting. Mengapa? Hakim MK masih tetap manusia biasa, dan manusia kebanyakan sangat mudah goyah. Apalagi, jika mereka punya catatan-catatan agak miring. Biasanya, orang langsung melemah ketika ada ancaman kemiringannya diungkap, akibatnya, ya… mereka jadi mbalelo. Apa lagi jika ditawari sesuatu yang menggiurkan, maka hancurlah kebenaran dan kejujuran.

Kita berharap ucapan Anwar itu sungguh-sungguh. Bukan sekedar diucapkan seperti kebanyakan orang yang biasa mengobral janji tanpa peduli menepatinya. Sekedar
mengingatkan, dalam akhir debat pilpres, ada capres yang menegaskan hanya takut pada Allah? Ingatkan? Tapi faktanya, kita bisa lihat dan rasakan sendiri bahwa ucapannya itu tidak punya makna apapun.

Tiket Surga
Banyak tokoh dan rakyat yang ragu terkait netralitas MK. Malah ada yang dengan tegas mengatakan percuma mengikuti proses sengketa pilpres di MK itu. Tapi, Prabowo-Sandi tak punya pilihan, konstitusi kita mewajibkannya demikian.

Hal ini bukan tanpa dasar. Kasat mata dan dalam banyak catatan, para hakim terlihat sangat dekat dengan pihak-pihak tertentu. Sangat dekat dengan kekuasaan, bahkan sliweran terdengar berita bahwa mereka telah menyiapkan keputusan (mudah-mudahan itu hanya hoaks).

Tak heran ketika dalam sebuah debat di televisi, salah satu pihak dengan enteng mengatakan sudah tahu apa yang diajukan ke MK. Saat ditanya, kok bisa tahu, kan itu rahasia? Orang itu kelabakan.

Tapi di balik keraguan itu, saya justru melihat bahwa jalur MK ini justru punya harapan yang besar. Para hakim, lepas cara dan latar belakang keterpilihan mereka di lembaga itu, sesungguhnya para hakim punya peluang besar untuk, insyaa Allah masuk surga, atau setidaknya mengurangi dosa-dosa mereka.

Para hakim bisa melaksanakan tugas semerdeka-merdekanya. Para hakim saat ini menjadi orang yang paling beruntung bukan hanya di Indonesia, tapi juga di bumi ini. Jadi, tak berlebihan jika kita berharap bahwa proses ini bisa berjalan sungguh-sungguh. Sesuai amanah kedaulatan rakyat.

Simak hadist Abu Daud, Tirmizi, dan Ibnu Majah yang dimuat Republika.co.id (8/7/11):
Menarik disimak, hadis yang sangat populer yang dirawikan oleh para pengarang kitab Sunan bahwa para hakim itu hanya tiga orang. Satu orang di surga dan dua lainnya di neraka. Seorang yang di surga adalah hakim yang mengetahui kebenaran, lalu menetapkan hukum dengan kebenaran itu. Ia di surga. Seorang lagi, hakim yang mengetahui kebenaran, tapi culas. Ia tidak menetapkan hukum berdasarkan kebenaran. Ia di neraka. Yang satu lagi, hakim yang bodoh, tidak tahu kebenaran, dan menetapkan hukum atas dasar hawa nafsu. Ia juga di neraka.

Sekali lagi, kita berharap dan berdoa agar para hakim MK benar-benar bisa berada di jalan Allah. “Saudaraku para hakim MK, raihlah tiket surgamu. Jangan biarkan api neraka tersenyum menantimu.” (*)

*Wartawan Senior

- Advertisement -

TERBARU

Menjaga Cermin Retak

Oleh: Al-Zastrouw MELIHAT kondisi kebangsaan saat ini bagai berkaca di cermin retak. Keretakannya sangat berkeping, sehingga kita tidak bisa melihat wajah asli kita di cermin...