Demi Allah, Kita Bukan Menggugat Jadwal Ajal!

Oleh: M. Nigara

ASTAGHFIRULLAH. Salah seorang Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan enteng mengatakan bahwa 622 nyawa Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), Polisi, dan sebagainya melayang dalam proses pemilu 2019, murni soal ajal. Ia lalu menambahkan soal keyakinan beragama dengan menyebut ayat Quran. Intinya, sang komisoner ingin semua orang menghentikan mempersoalkan kematian.

Seperti kita ketahui, ada 15 surat Quran terkait kematian. Satu di antaranya adalah QS Al Ahzab Ayat 16. Manusia mampu menciptakan apa saja. Manusia bisa berusaha apa saja, tapi, jika waktu ajal tiba, tak seorang pun yang bisa lari. Tidak bisa menghindari, tidak bisa dimajukan atau dimundurkan. Ajal pasti datang tepat waktu.

Jika Allah sudah berkehendak, tidak ada yang bisa lari dari takdir-Nya. “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika kamu terhindar dari kematian kamu tidak juga mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (QS Al Ahzab : 16).

Baca Juga:  Tragedi Pemilu 2019 Mendesak Segera Diinvestigasi

Sampai di situ, kita sebagai sesama muslim, pasti paham. Bahkan bagi saudara kita yang non-muslim pasti juga meyakini hal yang sama. Ajal adalah pasti.

Demi Allah, kita tidak sedang mempersoalkan tentang datangnya ajal. Tidak sedang menggugat soal ajal. Sekali lagi, tidak.

Tapi, kita sedang berbicara terkait azas kepatutan manusia. Soal takdirnya, tidak kita persoalkan. Tapi, tidakkah kita merasa terganggu –sekali lagi ini soal kepatutan– dengan kematian masal itu? Tidakkah hati kita sebagai manusia normal berpikir tentang musababnya? Bahkan kambing dan sapi mati dalam jumlah belasan saja diselidiki, kok manusia 622 orang ingin kita anggap biasa saja? Tidakkah ada upaya agar kita tahu persis penyebab kematian.

Sama seperti para dokter yang terus meneliti penyakit jantung, paru, kanker, dan lain-lain. Kalau kita berhenti di ajal, ya tidak perlu para dokter itu meneliti.

Usaha
Atau, agar para komisioner atau siapa pun yang menganggap kematian masal itu adalah hal biasa, saya beri contoh paling mudah.

Baca Juga:  Mereka Ini Mau Merampas Kemenangan Prabowo

Yakinkah anda menjadi anggota komisioner KPU itu adalah takdir? Sebagai umat beragama, pasti jawabannya yakin. Seperti agama kita, Islam, mengajarkan segala sesuatu yang kita alami sudah tertulis di Lauh Mahfuz.

Tapi, numpang tanya, kalau sampean tidak mendaftarkan diri, tidak ikut segala uji materi, apa bisa sampean jadi anggota komisioner KPU? Sampean sedang nongkrong di jembatan, terus tiba-tiba SK sampean keluar? Tidak perlu dijawab, kalau dijawab nanti sampean malu.

Tanya lagi, kalau sampean yakin soal takdir, ngapain sampean ikut daftar?

Sungguh, jangankan empati, simpati saja tidak anda perlihatkan kepada para korban dan keluarganya. Sangat keterlaluan sampean telah menganggap semua orang bodoh.

Atau, siapa yang akan jadi Presiden, pasti sudah ada namanya di Loh Mahfuz  (Arab:لَوْحٍ مَحْفُوظٍ lauḥ maḥfūẓ ) adalah kitab tempat Allah menuliskan segalanya, seluruh catatan kejadian di alam semesta. Lauh Mahfuz disebut di dalam Al-Qur’an sebanyak 13 kali.

Baca Juga:  Hasil Pilpres, KPU: Jokowi 55,50 Persen, Prabowo 44,50 Persen

Tapi, toh… semua tetap harus diperjuangkan bukan? Bahkan, ada orang yang melakukan dengan cara apa pun untuk mencapai keinginannya. Curang, kasar, dan sebagainya.

Itu sebabnya ada KPU, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), ada Pemilu. Semua proses keduniaan harus dilakukan. Pemilu dijalankan, KPU dan Bawaslu dioperasionalkan. Kalau berdasarkan ucapan komisioner KPU berhenti pada ajal dan takdir, tidak perlu ada semua itu.

Padahal Allah tidak akan memberikan sesuatu tanpa kita mengusahakannya. Sunatullah, begitu bahasa agamanya. Mempertanyakan dan meneliti kematian masal, itu usaha manusianya.

Dari hati yang paling dalam, saya mengajak anda para komisioner KPU untuk bertobat, mumpung ini bulan baik. Janganlah engkau mati seperti Ar-Rajjal bin Unfuah, sahabat Nabi yang tergelincir dengan bujuk rayu nabi palsu Musailamah. Ar-Rajjal membela kepalsuan dengan imbalan kekayaan dunia. Nauzubillah…. (*)

*Wartawan Senior