Beranda Headline Berita Ajaran Minimalisme Tak Perlu Diimpor

Ajaran Minimalisme Tak Perlu Diimpor

Oleh: Che Cupumanik

ADA sebuah buku dengan tema unik, terbit di Jepang pada 2011 berjudul: ‘The Live Changing Magic Of Tidying Up’ karya Marie Kondo.

Sebuah buku yang membahas seni beres-beres dan metode merapikan ala Jepang. Dan buku itu pada akhirnya bukan sekadar bicara tentang membuang barang dan menatanya, buku itu membuat pengaruh besar pada jutaan orang karena di dalamnya membahas ‘konsumerisme’, sebuah perilaku yang membawa kita pada sebuah zaman yang menyukai kondisi berkelebihan. Pada akhirnya manusia cenderung senang memiliki banyak barang yang sebetulnya tidak kita butuhkan. Dan pengaruh buku itu melahirkan buku-buku unik lainnya, seperti buku yang berjudul ‘Goodbye Things’, Hidup minimalis ala orang Jepang, karya Fumio Sasaki, terbit pada tahun 2015. Lebih jauh buku ini membahas konsep ‘minimalisme’, salah satu cirinya mengurangi kepemilikan benda hingga barang-barang yang paling pokok saja yang dipertahankan.

Para pengikut minimalisme mengatakan bahwa kini sudah saatnya mereka berpisah dengan banyak barang yang mereka punyai, memiliki sedikit barang sebetulnya menakjubkan. Selama ini mereka salah, mereka mengira semakin banyak barang berarti kita semakin bahagia. Pola pikir yang keliru itu artinya mengharuskan orang untuk mempunyai banyak uang dan perlahan kita pun mulai menilai orang berdasarkan jumlah uang yang dimiliki. Yang lebih ironis, kita menjadi semakin yakin bahwa kita harus menghasilkan banyak uang agar tidak tertinggal gerbong kereta kesuksesan. Itu sebuah lingkaran setan yang membuat kita dipenuhi gengsi yang sebetulnya tidak berguna. Kita digiring untuk berfokus besar hanya pada penumpukan uang dan aneka hal materi.

Jika kita renungkan lebih jauh lagi, tak seorang pun yang lahir ke dunia dengan membawa suatu benda dan bahkan ketika meninggal. Sebenarnya semua dari kita mengawali dan bahkan mengakhiri hidup sebagai seorang minimalis. Artinya nilai diri kita tidak ditentukan oleh seberapa banyak barang yang kita punya, tidak diukur oleh seberapa banyak harta yang bisa kita timbun. Para minimalis mulai menyadari bahwa semua benda yang tidak kita perlukan sebetulnya hanya menghabiskan waktu, energi dan kebebasan.

Punya lebih banyak barang akan menghabiskan banyak waktu dan energi untuk mengelola dan mempertahankan benda yang sudah kita punya, barang-barang atau harta yang seharusnya memudahkan justru mulai mengendalikan dan merepotkan kita. Harta benda yang kita kuasai akhirnya bergantian menguasai kita. Terkadang kita terlambat menyadari, sebetulnya kita sudah punya semua hal yang memang perlu dan kita butuhkan. Namun meski semua kebutuhan sudah terpenuhi kita terus saja bertanya-tanya apa yang kurang?

Para minimalis ini sudah selesai dengan perasaan mencemburui orang lain yang berlimpah kebendaan. Padahal sesungguhnya nilai hidup sederhana ini tak perlu diimpor dari Jepang atau barat, kesederhanaan adalah kearifan lokal kita. Manusia nusantara tahu persis, hal-hal apa saja yang bersifat pokok bagi dirinya, rela menahan diri atau mengurangi jumlah kepemilikan yang berlebih demi memberi ruang bagi hal-hal yang lebih penting dan dibutuhkan. Bukankah hal itu yang sering diajarkan orang tua kita?

Mereka sering mengingatkan kita untuk bisa membedakan kebutuhan dan keinginan. Itu nasihat baik yang harus tinggal di kepala kita, sebuah ajaran untuk mengenali hal-hal apa saja yang sungguh-sungguh penting bagi kita, memangkas hal-hal yang tak esensial agar kita sepenuhnya menghargai hal-hal yang memang berharga bagi kita. Konsep minimalisme itu bukan lagi barang baru bagi kita. Gelombang minimalisme dalam tahun-tahun belakangan yang menjadi fenomena bukan hanya tak bisa dihindari, kita bahkan sudah terbiasa dengan pola hidup sederhana.

Tapi pertanyaan yang menggelayut adalah, lantas kenapa tak henti-hentinya institusi KPK menangkapi barisan tamak rakus yang menghalalkan cara-cara maling dalam menimbun harta terus terjadi? Padahal konsep minimalisme begitu akrab dengan peradaban bangsa ini. Konsep itu bukan karena ilham sesaat atau sekadar ingin mengikuti tren gaya hidup baru semata. Konsep kesederhanaan adalah niat tulus dan kebutuhan moyang kita untuk memaknai ulang kehidupan. Nilai keserdehanaan ini nampaknya harus terus dijadikan teladan dalam praktik keseharian kita. Kalau tidak, nilai ini akan terkubur oleh tumpukan konsumerisme yang kian membengkak.

Kita perlu mengingatkan lagi bahwa kita harus belajar membebaskan diri dari semua pesan bermuatan materi di sekitar kita. Iklan yang terus menyuapi hasrat untuk memiliki kebendaan, kehidupan selebritas yang mewah di televisi yang membuat iri, barang cantik dan keren yang diposting di etalaseInstagram terus saja merayu kita dengan konsep sederhana dan minimalisme. Semua itu perlahan tak lagi relevan, dan kita pun bisa bebas berjalan berkeliling kota dan berselancar di dunia maya dengan perasaan nyaman dan bebas. Karena jika nafsu itu dituruti, kita tak akan merasa puas, saat terjebak dalam siklus kerakusan yang terjadi justru kita menginginkan lebih banyak lagi.

Sebelum kita semakin lupa, rasanya perlu mengingat lagi buah pikir Erich Fromm yang merumuskan dua pilihan antara ‘To Have’ atau ‘To Be’, dalam bukunya yang berjudul ‘To Have or To Be’ pada tahun 1976.  Fromm katakan: “Kehidupan kita adalah pergulatan, kehidupan kita berada di antara ‘hasrat memiliki’ atau ‘hasrat menjadi’. Pilihan-pilihan itu merupakan sebuah kunci untuk memahami secara sadar, apa yang kita pandang berharga atau apa yang sejatinya kita perjuangkan dengan penuh gairah dalam hidup. Modernitas yang disokong kapitalisme tiada henti merayu manusia untuk hidup menumpuk kepemilikan, itulah cara hidup yang berorientasi ‘memiliki’ (To Have). Dari cara berpikir ini timbullah keyakinan semu, bahwa ‘Aku adalah apa yang aku miliki, aku adalah status sosialku, aku adalah kelimpahan harta yang kumiliki, aku adalah benda-benda yang kumiliki’”.

Orang yang berorientasi ‘To Have’, identitas dan kesadaran diri seseorang terletak pada sesuatu di luar dirinya. Orang seperti ini terasing, terputus dari sumber, tidak terhubung dengan diri sendiri. Berbeda dengan cara hidup yang berorientasi ‘menjadi’ (To Be). Dengan ‘menjadi’, kita tak lagi mendasarkan makna dan nilai keberadaan kita pada sesuatu di luar diri kita. Harga diri kita tak ditentukan oleh harta benda yang kita miliki dan kita capai dalam hidup tetapi pada diri dan hidup kita itu sendiri sebagai sebuah proses menjadi. Lantas, selama ini hidup kita cenderung condong ke orientasi yang mana?

Artikel ini ajakan untuk mengingat nilai kesederhanaan, juga terapi ku sendiri agar mengingat ajaran minimalisme. Kalau begitu artikel ini sudah harus membatasi diriku sendiri, tak boleh panjang. Saya tutup artikel ini dengan buah pikir dari Lao Tzu, dia mewariskan buah pikir yang boleh jadi akan mengobati ketamakan kita, mengurangi kerakusan kita: “Puaslah dengan apa yang kau miliki, bergembiralah dengan apa yang ada. Ketika kau menyadari tak ada yang kurang, sebenarnya seluruh dunia telah menjadi milikmu”. (*)

*Musisi

- Advertisement -

TERBARU

Menjaga Cermin Retak

Oleh: Al-Zastrouw MELIHAT kondisi kebangsaan saat ini bagai berkaca di cermin retak. Keretakannya sangat berkeping, sehingga kita tidak bisa melihat wajah asli kita di cermin...