Beranda Headline Berita Perjamuan Terakhir

Perjamuan Terakhir

Oleh: Jaya Suprana

“The Last Supper” alias Perjamuan Terakhir Jesus Kristus dengan murid-muridnya kerap dilukis para mahapelukis era Renaisans seperti Tintoretto, Giampietrino, Solari, Gaddi, Orcagna, Castagno Ghirlandaio, Perugino, Sarto, Franciabigio dan lain-lain.

Pada abad XX, Salvador Dali juga sempat melukis Perjamuan Terakhir dalam gaya surrealisme. Namun Perjamuan Terakhir paling tersohor akibat paling sering dipromosikan adalah mahakarya Leonardo da Vinci yang kini dapat disaksikan di dinding refektori biara Santa Maria delle Grazie di Milan, Italia.

Menarik, para pelukis yang melukis PerjamuanTerakhir semuanya berjenis kelamin lelaki. Tidak banyak yang tahu bahwa seorang pelukis Perjamuan Terakhir adalah perempuan yaitu Plautilla Nelli.

Florence
Lukisan “Perjamuan Terakhir” mahakarya Plautilla Nelli beda dari para lukisan bertema sama yang dibuat oleh kaum lelaki.

Jika delapan lukisan Perjamuan Terakhir di Florence termasuk lukisan Leonardo da Vinci di Milan semuanya merupakan fresko yang dilukis langsung pada dinding, maka mustahil dipindah, lukisan Nelli dilukis dengan cat minyak di atas kanvas ukuran sekitar 7 X 2 meter, maka relatif lebih mudah dipindah.

Sampai saat ini, diyakini bahwa mahakarya Plautilla Nelli merupakan lukisan Perjamuan Terakhir pertama yang dilukis oleh seorang perempuan sejak empat setengah abad yang lalu.

Otodidak
Plautilla Nelli belajar melukis secara otodidak di biarawati Santa Katerina da Siena di kawasan Piazza San Marco, Florence  sejak berusia 14 tahun.

Nelli melukis Perjamuan Terakhir di mana Jesus dan para apostelnya makan malam bersama tanpa mengutamakan ruang makan, namun lebih fokus pada hidangan yang sama dengan yang disantap para biarawati Domenikan di biara, seperti kambing panggang, roti, anggur, selada dan kacang polong vava yang lazim di Toskana, Italia.

Para biarawati makan di ruangan di mana lukisan Perjamuan Terakhir mahakarya Nelli terpampang di dinding refektori biara selama dua abad.

Napoleon
Kemudian pada akhir abad XVIII, Napoleon menjajah Italia dan mulai menindas ordo-ordo keagamaan.

Pada tahun 1808, akhirnya biara Santa Katerina di Florence ditutup sehingga lukisan Perjamuan Terakhir Nelli lenyap ditelan zaman. Kemudian mahalukisan Paulitta Nelli dipindah ke biara Santa Maria Novella yang terletak hanya sekitar satu setengah kilometer dari Santa Katerina.

Di rumahnya yang baru, lukisan Nelli pertama diletakkan di dalam gudang di atik sebelum dipindah ke refektori lalu dipindah ke ruang yang lebih kecil pada tahun 1930 sampai pada tahun 1983 dipindah ke ruang makan, yang kemudian diubah fungsi menjadi museum.

Sejak Oktober 2019, para pencinta seni dapat membeli tiket masuk untuk mengagumi mahapesona lukisan Perjamuan Suci mahakarya Plautilla Nelli di Museum Santa Maria Novella di Florence, dipajang pada sebuah dinding terbentang memanjang sekitar 8 meter, seolah memang dipersiapkan oleh Yang Maha Kasih demi abadi menampilkan keindahan lukisan Perjamuan Suci mahakaya seorang biarawati bernama Plautilla Nelli. (*)

* Penulis adalah pembelajar kebudayaan dunia)

- Advertisement -

TERBARU

Kim Jong Un Eksekusi Pedagang Valas Pasca Anjloknya Mata Uang Korut

Kastara.ID, Jakarta - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dikabarkan telah mengeksekusi pedagang valuta asing (valas). Alasannya, mata uang Won Korea Utara anjlok terhadap...