Keluarga Sebagai Basis Utama Deradikalisasi

Radikalisme

Oleh: Muhammad AS Hikam

Dalam kesempatan silaturrahim keluarga besar kami pada pasca-lebaran Idul Fitri 1439 H, yang digelar di Yogya (17/06/18), saya lagi-lagi ketiban sampur untuk memberikan “ular-ular“, persis seperti yang terjadi tahun lalu. Berhubung saya bukan seorang Ustadz, apalagi Kyai, tentunya temanya tidak ‘mainstream‘ layaknya acara halal bi halal. Saya memilih tema yang intinya mengingatkan pentingnya fungsi keluarga dan nilai kekeluargaan (family values) dalam upaya menghadapi dinamika masyarakat dan bangsa saat ini dan di masa depan. Alasan saya terutama adalah fakta bahwa keluarga besar kami semakin berkurang jumlah generasi pertama bahkan kedua;  sebaliknya jumlah generasi milenial dan post-millenialnya makin membesar.

Selanjutnya, dinamika masyarakat dan bangsa jelas sangat berbeda antar generasi. Kalau generasi kedua masih jarang yang memiliki tingkat pendidikan sampai S1, S2, apalagi S3, sebaliknya dengan generasi ketiga. Pendidikan tinggi sudah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah bahkan bagi sebagian mereka seolah ‘taken it for granted‘. Mereka juga merupakan generasi yang lebih kosmopolitan dengan status sosial kelas menengah perkotaan dengan segala “ubo rampe“-nya. Secara psikologis, memori kolektif mereka terhadap generasi pertama dan kedua, termasuk visi dan tradisi keluarga, cenderung kian meredup sehingga perlu untuk selalu diingatkan dan di-re-enforced melalui berbagai forum dan tradisi budaya, termasuk acara silaturrahim tahunan seperti ini.

Baca Juga:  Sinergi Kemenag, Kemendikbud, dan BNPT Cegah Paham Radikal dan Intoleran
Karena itu saya menggunakan kesempatan ini untuk mengingatkan kembali bahwa visi dan misi keluarga besar kami sejak generasi pertama adalah membangun bangsa melalui pendidikan (pesantren dan umum), kiprah akademis, dan pengembangan sains. Visi dan misi tersebut membawa konsekuensi orientasi nilai tertentu, antara lain kecintaan dan loyalitas terhadap bangsa dan NKRI, dan misi memajukan ilmu pengetahuan dalam spektrum yang luas. Keluarga besar kami, misalnya, memiliki pondok pesantren dan menumbuhkan generasi terdidik dalam sains dan teknologi, selain para profesional seperti pebisnis, birokrat, guru, dan lain-lain.
Kondisi saat ini dan masa depan bangsa akan sangat diwarnai dinamika yang cepat. Salah satu hal yang dihadapi adalah maraknya pengaruh ideologi radikal yang bisa memberantakkan keutuhan dan kerukunan bangsa. Itu sebabnya keluarga besar ini punya tanggung jawab ikut menanggulangi ancaman tersebut dan salah satu sumbernya adalah memperkokoh keluarga agar tidak terpapar radikalisme. Orang tua wajib memantau perkembangan anak-anak mereka, sejak masih kecil sampai pada jenjang pendidikan tinggi, agar konsisten dengan visi, misi, dan family values yang menjadi ciri khas dari generasi sebelumnya.
Tanggung jawab keluarga dalam konteks ini sangatlah besar dan berat. Perkembangan sosial dan iptek memerlukan dan meniscayakan adanya penyesuaian terus-menerus dalam metode dan teknik pendidikan keluarga. Apalagi pada lingkungan kemasyarakatan berbeda-beda. Dan salah satu kunci untuk penguatan tersebut adalah melalui silaturrahim serta komunikasi yang produktif. Dengan cara itu ketahanan keluarga dan masyarakat terhadap ancaman virus radikalisme bisa dipertahankan dan bahkan diperkokoh.
Sebaliknya jika salah satu keluarga mulai terpapar radikalisme, maka harus ada upaya yang cepat dan mendasar sedini ungkin untuk meredam dan memberantasnya. Hanya dengan komunikasi intensif dan silaturrahim yang konsistenlah upaya tersebut bisa dilakukan secara efektif.

Keluarga adalah sebuah hasil perjanjian yang utama (mithaqan ghalidza). Ia adalah basis pembentukan masyarakat dan bangsa. Jika keluarga sudah hancur maka hanya soal waktu saja kehancuran terjadi pada tataran yang lebih luas. Semoga kita semua tetap menyadari tugas kita memajukan bangsa dan negara sesuai kapasitas masing-masing. Amiin. (*)