Kastara.Id,Kupang – Kepala Desa Kuimasi / Kades Kuimasi, Maksen Lifu memanfaatkan dana desa dengan membangkitkan kembali lahan tidur seluas 20 hektar. Lahan tersebut sudah puluhan tahun tidak diolah. Ada dua komoditas yang mereka tanami yakni tanaman lamtoro terambah untuk peternakan dan jagung untuk pertanian.

Kades Kuimasi Maksen Lifu dalam Laporan dihadapan Bupati Kupang yang hadir dalam kegiatan penanaman bersama lamtoro dan jagung, Sabtu 19 November 2022 menyampaikan 20 puluh ribu anakan lamtoro terambah disiapkan oleh mereka. “Jadi satu hektar itu 1000 anakan kita siapkan, semuanya dari dana desa,” ungkapnya.

Masih kata Kades ,Program ini diswadaya oleh masyarakat dengan lahan dan tenaga 30 persen dan pembiayaan sebesar 70 persen. Sementara untuk bibit mereka mengalokasikan dana sebesar Rp. 25.500.000 rupiah dengan rincian 25 juta untuk pengadaan polibag dan 500 ribu untuk pengadaan bibit lamtor.

Bibitnya bukan disemaikan di kantor desa tapi diberikan kepada janda, pengangguran, lansia dan nanti desa membeli kembali dari masyarakat dengan 1 polibag seharga 1000 rupiah.

Bagi masyarakat yang masih kuat dan punya tenaga baik didaftarkan untuk menjadi pekerja dalam program ini dan untuk sementara sudah 65 pekerja yang ada. “Inilah swadaya dari masyarakat dan saya yakin dengan berjeri lelah tentu akan merawat ini dengan baik,” katanya.

Bupati Kupang Korinus Masneno sangat mengapresiasi Kades Kuimasi yang berpikir inovatif membantu warganya mendapatkan penghasilan lebih baik.

“Ini pertama kali dana desa bekerja sama dengan masyarakat khusus mengembangkan bidang pertanian dan peternakan, Ini akan di jadikan  contoh bagi kita semua kalau 165 desa coba tanam lamtoro terambah dan disulam dengan jati berapa hektar yang bisa kita produksi di negeri kita,” ungkap Bupati.

Kupang begitu kaya dengan potensi sumber daya namun persoalan saat ini masyarakat maupun pemimpin lokal tidak miliki ide yang cukup mengembangkan usaha disini.

Bupati Kupang mengatakan, hampir 200 miliar setiap tahun  mengalokasikan dana desa bagi setiap desa dan bisa dibayangkan satu tahun 20 hektar setiap desa maka lima tahun 100 hektar berhasil diolah masyarakat.

“20 hektar ini bukan untuk kepentingan pemerintah tapi untuk masyarakat. Disini kita tidak pernah miskin, kita miskin karena kurang ide, kita tidak pernah bergandengan tangan. Hari ini saya berbangga terhadap kepala desa walaupun baru beberapa bulan sudah melakukan sesuatu yang luar biasa seperti ini,” tutup Bupati.