Beranda Headline Berita Teori Otak dan Muatan Enterpreneurship dalam Pembelajaran

Teori Otak dan Muatan Enterpreneurship dalam Pembelajaran

Oleh: Imam Safe’i

PENDIDIKAN yang kita selenggarakan hari ini sesungguhnya untuk menyiapkan anak didik hidup di masa depan. Kita sekali-sekali boleh menoleh ke belakang untuk melihat pengalaman sukses dan gagal untuk memperbaiki pendidikan hari ini, tetapi yang paling penting kita harus fokus untuk membuat proyeksi masa depan. Pelbagai persoalan dan hal-hal yang mungkin kita butuhkan harus mulai kita baca untuk menyiapkan solusi dan pemenuhan. Membaca masa depan ini tidak hanya dengan khayalan tetapi harus berdasarkan fakta keadaan hari ini dan perkembangan-perkembangan ilmu pengetahuan.

Kita telah melihat upaya-upaya yang dilakukan oleh para pengambil kebijakan pendidikan. Kita tentu masih ingat ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dijabat oleh Wardiman. Beliau mengambil kebijakan agar keluaran lembaga pendidikan tidak terpisah dengan dunia usaha. Beliau sangat khawatir lulusan lembaga pendidikan hanya menambah jumlah pengangguran. Dengan  Link and Match sebagai branding kebijakan, materi ajar di sekolah-sekolah disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan dunia usaha.

Menteri-menteri berikutnya juga mengambil langkah-langkah kebijakan dengan melakukan perubahan-perubahan kurikulum dan materi ajar agar tidak ketinggalan zaman. Mendikbud saat ini, beberapa hari setelah dilantik juga mencoba membuat gebrakan-gebrakan. Dengan latar belakangnya sebagai pengusaha, beliau juga menginginkan pendidikan kita berorientasi pada pengembangan dunia usaha dan entrepreneurship. Melalui Program Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar, beliau memaparkan sejumlah pengalaman dan gagasan yang intinya juga berfikir dan berusaha agar proses pendidikan kita melahirkan orang-orang yang mau kerja keras, kreatif dan berani membuat terobosan-terobosan.

Tidak pernah ada kebijakan pemerintah yang diterima semua pihak. Kritik dan sanggahan selalu muncul dari pelbagai kalangan yang tidak sejalan. Dan respons seperti ini selalu terjadi setiap pemerintah mengeluarkan kebijakan. Atas dasar keyakinan ini nampaknya pemerintah tetap terus menjalankan kebijakan yang digulirkan. Dampak kebijakan ini memang belum bisa dilihat hari ini tetapi atas dasar kajian, keyakinan dan pengalaman, semua diharapkan optimis akan melihat terjadinya perubahan di masa depan.

Dengan bermodal pengalaman sukses menciptakan perusahaan on-line di bidang digital “Gojek”, Nadiem Makarim tidak bergeming dengan pelbagai kritikan. Beliau pastinya dengan penuh keyakinan tahu bahwa kebijakan-kebijakan yang telah diputuskan akan menciptakan perubahan. Tentu beliau tidak ingin hanya menciptakan tukang-tukang ojek lain, tetapi spirit perubahan dan kreativitas yang akan diciptakan.

Semua kita tidak pernah setuju kalau lulusan lembaga pendidikan hanya menciptakan tukang-tukang atau tenaga kerja perusahaan. Namun, kita pasti juga sepakat bahwa kita ingin lulusan lembaga pendidikan terutama perguruan tinggi tidak hanya menambah jumlah pengangguran. Oleh karena itu kita semua harus berfikir bahwa pendidikan yang laksanakan harus betul membawa perubahan untuk merespon persoalan-persoalan dan kebutuhan masa depan. Kita juga harus berfikir dan berusaha memproyeksikan sosok lulusan pendikan yang kita harapkan.

Otak Kiri dan Otak Kanan
Banyak orang yang menghubungkan antara otak dan kecerdasan. Makanya kita sering mengatakan bila bertemu dengan orang pintar atau orang hebat lalu mengatakan otaknya cerdas. Untuk memahami lebih mendalam tentang ini biasanya orang merujuk pada Teori Otak. Dalam pembahasan yang populer, teori ini membagi antara Otak Kiri dan Otak Kanan. Menurut penjelasan pelbagai literatur disebutkan bahwa Otak Kanan bertanggung jawab secara acak, intuitif, holistik, menyatukan pemikiran dan subyektif. Sementara Otak Kiri berperan untuk berfikir logika, skuensial, rasional, analitis, dan obyektif.

Berdasarkan teori ini akhirnya dapat disimpulkan bahwa kebanyakan individu memiliki preferensi berbeda dalam menggunakan salah satu gaya berfikir. Makanya sering kita dengar di tengah-tengah masyarakat yang menyebutkan seseorang dominan otak kiri dan yang lain otak kanannya. Tidak ada yang lebih baik antara satu dengan lainnya karena masing-masing sesungguhnya punya keunggulan kalau dikembangkan secara maksimal. Keunggulan masing-masing ini akan memperkuat pernyataan bahwa masing-masing juga memiliki keterbatasan.

Kepada semua yang terlibat dalam dunia pendidkan atau pembelajaran, pemahaman tentang teori otak ini penting. Pemahaman terhadap persoalan ini akan mengarahkan pada layanan yang berimbang pada masing-masing individu peserta didik yang memang memiliki potensi beragam. Kurikulum yang diberikan kepada peserta didik harus utuh yang berorientasi pada pengembangan potensi otak secara individual. Pendidikan harus meberikan bobot yang seimbang dalam mengajarkan seni, kreativitas, dan keterampilan imajinasi.

Hal ini sesungguhnya akan meneguhkan kepada semua individu peserta didik bahwa sesungguhnya mereka memiliki potensi yang sama dengan keragaman kecerdasan yang berbeda-beda. Seseorang yang dapat mengembangkan salah satu potensinya saja mereka akan bisa menunjukkan eksistensinya. Dengan demikian kita semua tidak perlu resah dengan kemampuan anak karena mereka pasti memiliki keunggulan masing-masing. Sekali lagi yang terpenting dan harus dipastikan adalah bagaimana layanan pendidikan bisa memenuhi kebutuhan individual untuk bisa mengembangkan potensi yang dimiliki.

Tidak Pakai Otak
Dari pemahaman teori otak yang sudah lazim dan mafhum disepakati banyak pihak ternyata ada ungkapan lain yang menarik dan out of the box. Mereka tidak hanya mengelompokkan individu dalam kategori yang dominan pada Otak Kiri dan Otak Kanannya tetapi ada lagi kelompok yang disebut “Tidak Pakai Otak”. Tentu ini bukan kalimat yang bermakna denotatif tetapi lebih sebagai terminologi yang ingin mewadahi potensi lain sebagai fakta yang dirasakan. Orang-orang pekerja keras, berani bertarung, pantang menyerah dan berani menanggung resiko merasa lebih tepat dimasukkan dalam kategori kelompok “Tidak Pakai Otak”. Kelompok ini biasanya dihubungkan dengan profesi sebagai pengusaha yang dalam proses mencapai sukses memang membutuhkan karakter-karakter di atas.

Kalau kita membaca buku ‘Why “A” Student Work for “C” Student and Why “B” Student Work for the Government yang ditulis Robert Toru Kiyosaki seorang yang memiliki latar belakang investor, usahawan, penulis dan motivator, pasti pandangan kita terdadap pendidikan khususnya terkait prestasi belajar akan berubah. Melihat kenyataan di lapangan banyak terjadi seperti itu, kemungkinan ke depan orang tidak mengelu-elukan lagi ranking atau indeks prestasi. Hasil kajian ini pasti membelalakkan mata kita yang selama ini seperi itu. Hampir setiap acara wisuda di kampus yang dikasih penghargaan selalu yang masuk kategori The Best Ten berdasarkan pencapaian indeks prestasi. Padahal fakta di lapangan menunjukkan orang yang Indek Prestasi rendah bahkan drop out tidak bisa menyelesaikan studi justru eksis di masyarakat sebagai tokoh, pengusaha dan lain-lain.

Dari paparan Kiyosaki dalam buku di atas ternyata peserta didik yang memiliki prestasi “C”¬† adalah sosok yang mandiri. Kegagalan studi yang dianggap oleh banyak pihak karena indeks prestasinya “C” ternyata lebih hebat perannya dibandingkan yang memiliki nilai “A”. Dalam analisa entrepreneurship dapat digambarkan proses perjalanan kenapa anak yang nilai rendah bisa menjadi bosnya mereka yang nilai akademiknya lebih. Ini memang tidak terjadi secara tiba-tiba. Anak yang lulus terbaik dengan nilai “A” biasanya melamar bekerja di mana-mana langsung diterima. Karena tidak mungkin diterima langsung menjadi pimpinan unit kerja, maka yang terjadi mereka sebagai pekerja yang terkadang dalam waktu yang lama. Sementara anak yang nilainya “C” melamar di mana-mana tidak ada yang menerima. Akibatnya, mereka frustasi dan merinstis usaha sendiri.

Dengan ketekunan dan rasa percaya diri, ternyata mereka bisa mandiri dan akhirnya memiliki usaha sendiri. Bertahap dan terus ditekuni akhirnya menjadikan usaha yang dikelola menjadi kuat, kokoh, dan bergengsi. Setelah fakta seperti ini terjadi, bukan tIdak mungkin orang-orang yang dulunya belajar di kampus yang bereputasi dan indeks prestasinya “A” berbondong-bondong melamar bekerja di perusahaan yang pemiliknya dulu hanya memperoleh indeks prestasi “C”.

Oleh karena itu, layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik harus berorientasi pengembangan kemampuan otaknya. Sejak dini perlu ditanamkan dan dikembangkan dalam proses pembelajaran nilai-nilai enterpreneurship seperti mental berani gagal, mencoba hal-hal yang baru, hal-hal yang beda dan tidak hanya berlomba-lomba mengejar ranking dan indeks prestasi yang basisnya hanya penguasaan materi pelajaran.

Untuk menjadi sosok yang tangguh, seseorang perlu merasakan pembelajaran hidup yang pasang surut, timbul tenggelam serta sukses dan gagal. Pengalaman seperti ini akan mematangkan seseorang dan lebih tangguh lagi menghadapi tantangan-tantangan kehidupan. Malah kalau kita dengar jargon yang sering dipakai oleh pengusaha-pengusaha sukses dan terkenal, mereka mengatakan “Hanya Orang-orang yang berani Gagal Total yang akan Berhasil Total. (*)

* Pasien Isolasi Covid-19 di RS Hermina.

- Advertisement -

TERBARU

Kolaborasi Dekranasda DKI Bersama LocknLock Indonesia dan Didiet Maulana

Kastara.ID, Jakarta - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta berkesempatan melakukan kolaborasi bersama LocknLock Indonesia dan Didiet Maulana. Dalam kolaborasi kali ini, Dekranasda...