Beranda Headline Berita Menghayati Fitrah

Menghayati Fitrah

Oleh: Jaya Suprana

HARI Raya Idul Fitri sudah berlalu. Pada masa pageblug Corona, Idul Fitri istimewa sebab beda dari yang pernah saya alami selama lebih dari tujuh puluh tahun hidup di dunia fana ini. Berkat pageblug Corona, saya merasa mulai mengerti inti makna utama Hari Raya Idul Fitri yaitu mengajak umat manusia kembali ke fitrah.

Fitrah
Hari Raya Idul Fitri pada masa virus Corona menyadarkan bahwa pada hakikatnya diri saya sekadar sesosok mahluk hidup yang sama sekali tidak berdaya apapun. Berkat virus Corona, saya tersadarkan bahwa saya bukan hanya debu namun bahkan debunya debu yang sama sekali tidak bermakna bagi planet bumi apalagi alam semesta yang sedemikian luas seolah tanpa batas.

Apabila meninggalkan dunia fana ini sebenarnya saya sama sekali tidak berpengaruh terhadap pasang suratnya air laut apalagi gerak para planet mengitari matahari. Sementara matahari tetap terbit di ufuk timur serta tetap terbenam di barat serta tetap lestari berulang perpetuum mobile sampai akhir zaman. Pendek kata, saya sedemikian tidak berarti sehingga sama sekali tidak bermakna sedikit pun bagi alam semesta.

Negara
Virus Corona juga menyadarkan saya tentang makna apa yang disebut sebagai negara, bangsa dan rakyat. Negara adalah sebuah lembaga buatan manusia demi mewadahi apa yang disebut sebagai bangsa. Memang apa yang disebut sebagai bangsa mustahil eksis apabila tidak ada sekelompok manusia yang disebut sebagai rakyat.

Dipandang secara kronologis pada urutan kehadirannya maka sebenarnya layak dikatakan bahwa negara mustahil hadir sebelum ada bangsa sementara bangsa mustahil hadir sebelum ada rakyat. Maka sebenarnya layak dikatakan bahwa posisi rakyat lebih utama ketimbang bangsa apalagi negara.

Namun sayang pada kenyataannya justru terbalik, sebab terkesan negara malah lebih diutamakan ketimbang bangsa apalagi rakyat. Bahkan mereka yang dipilih oleh rakyat untuk mengelola negara disebut sebagai pemerintah yang merasa berhak memerintah-merintah bangsa apalagi rakyat. Di dalam struktur organisasi kepemerintahan yang disebut sebagai kabinet, rakyat justru dianggap tidak penting sebab terbukti tidak ada Menteri Urusan Rakyat.

Rakyat
Sebagai hiburan bagi rakyat, pada masa pemilihan umum rakyat diberi hak dan wewenang memilih para wakilnya untuk duduk di tahta Dewan Perwakilan Rakyat. Pada masa pemilihan presiden, rakyat diberi kesempatan memilih presiden sekaligus dengan wakil presidennya. Namun setelah pemilu usai, Dewan Perwakilan Rakyat berubah menjadi Dewan Perwakilan Parpol serta sang presiden terpilih lazimnya rawan terpapar virus Amnesia-007 maka lupa segenap janji pada masa pilpres.

Memang tampaknya fitrah rakyat adalah wajib tulus ikhlas diingkari oleh para penguasa yang dipilih oleh rakyat. Mengharukan, betapa ikhlas rakyat merelakan diri diingkari oleh mereka yang dipilih oleh rakyat sendiri untuk duduk di singgasana kekuasaan.

Dan pageblug Corona menyadarkan saya bahwa pada hakikatnya fitrah rakyat di samping mengharukan sebenarnya juga memalukan saya. Terbukti saya sama sekali tidak berdaya menolong apalagi melindungi rakyat dari pengingkaran terhadap mereka. Saya hanya berdaya menulis naskah sederhana ini yang sebenarnya juga tidak bermakna, maka mubazir seperti gonggongan anjing di padang pasir sementara khafilah tetap berlalu. (*)

* Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

- Advertisement -

TERBARU

Penghentian Tunjangan Dikeluhkan Para Guru

Kastara.ID, Jakarta - Para guru mengeluhkan penghentian tunjangan profesi oleh Peraturan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nomor 6 Tahun 2020 yang sebenarnya...