Indonesia Peringkat Lima di Dunia Digitalisasi dan Internet

Go-Jek

Kastara.ID, Bandung – Kemajuan di bidang teknologi digital bergerak begitu pesat. Menurut data, di seluruh dunia digitalisasi dan penggunaan internet sudah di atas 70 persen. Bahkan, di Eropa telah mencapai 90 persen. Indonesia menempati posisi kelima.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Dirjen IKP Kemkominfo) Rosarita Niken Widiastuti dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 bertema “Membangun Indonesia, Menyejahterakan Jawa Barat”, di Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/11).

“Sekarang, pengguna internet di Indonesia mencapai 56 persen, yakni 143 juta jiwa. Dan kalau dilihat dari 143 juta jiwa itu, paling besar adalah anak milenial, jumlahnya di atas 60 persen. Durasi menggunakan internet setiap hari pun terus meningkat,” jelas Niken.

Menurut Dirjen IKP Kemkominfo, di era milenial ini, mulai dari bangun tidur hingga sampai mau tidur, semua sudah terkoneksi internet. Hanya saat tidur saja tidak menggunakan internet.

Baca Juga:  Arief Yahya: Teknologi di Era Komunikasi 4.0 Ubah Budaya Masyarakat

“Bahkan, data menunjukkan penggunaan data handphone melebihi jumlah penduduk Indonesia, 415,7 juta. Ini data sebelum ada registrasi data prabayar. Setelah dirapikan, sekarang 300 juta,” ungkap Niken.

Perilaku masyarakat dalam penggunaan digitalisasi, lanjut Dirjen IKP, di antaranya untuk chating sebesar 60 persen, browsing 50 persen, dan video streaming 35 persen. Namun, untuk bertransaksi baru 15 persen, membuat program 5 persen, dan membuat aplikasi 24 persen.

“Kesimpulannya bahwa ternyata hanya 15 persen penggunaan internet untuk transaksi,” ujar Niken.

Dengan digitalisasi, Dirjen IKP menegaskan, sudah pasti bisa mengubah dunia. Saat ini, ada 50 koorporasi yang bisa mengubah dunia. Urutan ke-17 dari Indonesia, yakni Go-Jek.

Baca Juga:  Membangun Ruang Publik yang Sehat dan Bebas dari Ketakutan

“Kita bisa membandingkan, sebelum ada Go-Jek, mau perjalanan kalau tidak ada kendaraan pribadi kita harus jalan ke halte, nunggu bus, atau angkot. Tapi sekarang kita bisa dijemput di rumah, kalau kita lapar tinggal Go Food, mau massage tinggal panggil Go Massage,” ulas Niken.

Maka, menurut Dirjen IKP, banyak sekali perubahan-perubahan dengan aplikasi ini. Go-Jek bisa memberdayakan ratusan ribu sepeda motor dan mobil yang bisa digerakkan. Inilah yang disebut ekonomi sharing. “Dan Go-Jek sebagai perusahaan yang mengubah dunia,” ucap Niken.

Berdasarkan survei, Dirjen IKP menjelaskan, pada tahun 2030 Indonesia berpotensi menjadi negara maju ke lima di dunia. Ini adalah tanda-tanda kemajuan Indonesia sudah terlihat dari sekarang.

Baca Juga:  Tiga Upaya Strategis Pemerintah Dorong Pemanfaatan Teknologi Digital

“Contohnya, banyaknya capaian-capaian di berbagai bidang. Salah satunya ekonomi kita yang cukup kuat di tengah dampak ekonomi global yang sedang berdinamisasi. Buktinya, dolar sempat mencapai Rp 15.500. Saat ini Rp 14.300, padahal sejumlah negara masih dilanda dampak krisis global. Karena itu, ekonomi Indonesia saat ini bisa dikatakan sebagai ekonomi yang kuat,” tegas Niken.

Pemerintah, menurut Dirjen IKP, menargetkan pada tahun 2020 Indonesia akan menjadi negara yang kuat dalam ekonomi digital, khususnya di Asia Tenggara. Tanda-tanda ke arah sana sudah terlihat. Salah satunya, sudah ada empat Unicorn Indonesia yang mencapai pendapatannya lebih dari USD 1 miliar.

“Presiden Joko Widodo menjelaskan kita akan menjadi negara yang memiliki ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara,” ujar Niken. (mar)