Risalah Jakarta Akan Disesuaikan Dengan Program Kemenag

Kastara.ID, Medan – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyatakan,  Kementerian Agama akan segera menindaklanjuti hasil dari pertemuan agamawan, budayawan, dan akademisi dalam Forum Dialog Lintas Iman yang melahirkan Risalah Jakarta.

“Banyak masukan yang kita terima terkait dengan bagaimana sebaiknya peran dan fungsi Kementerian Agama dalam menjaga, memelihara, dan mengembangkan kehidupan keagamaan menjadi lebih baik,” ujar Menag jelang menghadiri Perayaan Natal Nasional 2018 di Kota Medan (29/12).

“Kita akan segera menindaklanjuti Risalah Jakarta untuk lalu kemudian dijadikan acuan dalam merumuskan program program dari Kementerian Agama khususnya menata kehidupan beragama,” sambungnya.

Pertemuan tersebut menurut Menag sangat bermanfaat bagi Kementerian Agama dalam merumuskan sekaligus melaksanakan program program tahun 2019.

Baca Juga:  Kekerasan dan Kebencian Tak Miliki Tempat di Dunia Beradab

Forum Dialog Lintas Iman yang digagas Kementerian Agama mengusung tema Kehidupan Beragama di Indonesia: Refleksi dan Proyeksi. Kegiatan tersebut menghasilkan lima rumusan yang disebut dengan Risalah Jakarta. Rumusan ini dibacakan oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD.

“Saya sangat menghargai kehadiran para tokoh yang sudah meluangkan waktu dalam forum dialog lintas iman,” kata Menag.

Dialog Lintas Iman digelar selama dua hari 28-29 Desember 2018 dengan konsep dialogis penuh keakraban di bilangan Ancol Jakarta. Ikut dalam dialog ini sejumlah agamawan dan budayawan, antara lain Mahfud MD, Asep Zamzam Noor, Fatin Hamama, Garin Nugroho, Haidar Baqir, Hartati Murdaya, Henriette G Lebang, Jadul Maula, Komaruddin Hidayat, Suhadi Sanjaya, Sujiwo Tedjo, Ulil Abshar Abdalla, Usman Hamid, Uung Sendana, Wahyu Muryadi, Yudi Latif, Bhikku Jayamedo, Alisa Wahid, Coki Pardede, Zaztrow, dan D Zawawi Imron.

Baca Juga:  Ups, KPK Sita Ratusan Juta Rupiah di Ruang Menteri Agama

Ada tiga isu utama dibahas dalam forum dialog, yaitu Konservatisme Beragama di Indonesia, Beragama di Era Disrupsi, serta Relasi Agama dan Negara. (put)