Beranda Headline Berita Selayang Pandang: Duta Arafah

Selayang Pandang: Duta Arafah

Oleh: Fauzul Iman

SEBAGAI puncak Rukun Islam, haji menempati posisi ibadah yang paling populer dan menghebohkan di dunia di samping ibadah lain. Kehebohan ibadah haji ini bukan hal dibuat buat melainkan sudah merupakan deklarasi Tuhan yang paling primordial.

Deklarasi Tuhan yang menggetarkan dunia itu dari sisi pesan sepertinya keberanian Tuhan yang mengandung resiko di atas segala resiko. Apalagi deklarasi itu diserukan lewat suara Nabi Ibrahim As yang notabenenya manusia biasa. Rasanya dari sudut materi pesan tiada mungkin deklarasi itu akan efektif mengundang jagat umat untuk datang ke kota suci dari segala penjuru dunia dengan berjalan kaki atau menaiki onta kurus (QS 22:27).

Kenyataannya deklarasi itu menjadi firman Tuhan yang sangat tsubut (tangguh/otentik) dan memiliki daya kebenaran yang tak terbantahkan oleh siapa pun meski oleh makhluk yang paling super di dunia ini. Deklarasi Tuhan itu kini mampu memanggil berjuta orang setiap tahunnya dari segala penjuru dunia untuk berkumpul dan menunaikan ibadah haji di kota suci.

Ibadah haji itu kini menjadi ibadah yang paling digemari umat muslim sedunia. Berjuta umat Islam itu datang ke kota suci mentaati deklarasi Tuhan. Tiada satu pun yang mampu menghalangi niat ibadah umat Islam yang paling bergengsi itu. Umat islam sedunia dari berbagai latar belakang kultur, strata kaya/miskin dan warna kulit tiba di kota suci tak peduli apakah mereka diterjang hujan badai, iklim maupun musibah besar yang menimpanya.

L Stoddard dalam karya monumentalnya The New World of Islam mengagumi betapa militanismenya para hujaj yang tak pernah mengalami pasang surut menuju kota suci Makkah walau diterjang amuk badai dan tragedi Mina secara berulang-ulang.

Sinyalemen L Stoddard ini mengingatkan fanomena militanisme umat Islam Indonesia dalam menunaikan ibadah haji tak pernah mengalami pasang surut setiap tahunnya. Kaya dan miskin dalam jumlah yang tidak kecil mereka pergi haji. Di antara mereka terdapat jemaah yang berulang-ulang menunaikannya. Bahkan banyak di antara mereka adalah jemaah yang menunaikan ibadah haji dengan biaya hasil usaha jerih payah sehari-hari. Didapati juga jemaah yang tega menjual tanah sebagai satu satunya modal hidup demi niat ibadah hajinya tercapai.

Terlepas apakah niat ibadah haji umat Islam yang sangat masif ini terbawa arus emosional subjektifnya atau karena kesadaran spiritualnya, yang jelas deklarasi Tuhan itu memiliki daya panggil imperatif untuk melebur umat manusia dalam pertemuan puncak di sebuah audatorium Tuhan yang bernama Arafah.

Di sanalah umat manusa direkognisi kesadaran nalar dan rohaniahnya setelah sebelumnya melakukan jihad panjang dari start waktu/miqat ihram lalu thawaf, sai, dan melontar jumrah hingga pada narasi pertemuan puncak kontemplatif.

Sejarah rekognisi kesadaran nalar dan rohaniah oleh Nabi SAW dalam khutbah wada’nya di puncak haji ini seyogyanya menjadi narasi agung dalam menjunjung tinggi hak-hak dasar kemanusiaan di era modern. Thomas Jefferson menyebutnya hak-hak dasar kemanusian paling universal telah dilahirkan oleh sang Nabi umat islam di puncak ibadah haji yang amat spektakuler.

Di puncak haji (Arafah) inilah narasi agung hak hak dasar kemanusiaan itu dibentangkan Nabi SAW lewat khutbah monumentalnya dengan menyerukan kepada segenap umat manusia agar membuang jauh perilaku jahiliyah yang sama sekali tidak sesuai dengan ajaran tauhid/islam. Darah, kehormatan dan harta umat manusia, kata Nabi, haram bagi orang lain atau sesama saling membunuh, menghisap, memeras dan mengekploitasi dengan cara-cara zalim. Hilangkan sikap dendam, pemarah dan diskriminasi yang membedakan kaya miskin, hitam putih, kaum berdarah biru dan kaum rendahan dan seterusnya.

Hak hak dasar perempuan, demikian Nabi, agar ditegakkan seadil-adilnya guna melindungi dan menempatkan perempuan dalam martabat kemanusiaan yang sama. jangan jadikan perempuan sebagai objek pemuas seksual belaka. Demi tegaknya persamaan dan toleransi, lanjut Nabi, berilah pendidikan para budak hitam itu dan angkatlah kelak menjadi pemimpin umat. Hargailah, hormatilah dan tegakkanlah hukum kepada umat lain dengan dengan seadil-adilnya.

Demikianlah deklarasi Tuhan tentang haji yang diserukan empat belas abad yang lalu, ternyata telah didesain Tuhan sendiri dalam agenda dan proposal yang profesional dan tepat sasaran dalam upaya membangun kemanusiaan. Deklarasi Tuhan itu telah menggetarkan dunia karena lewat pemikiran Thomas Jefferson kini telah dijadikan piagam kemanusiaan tingkat dunia di PBB.

Oleh karena itu, bagi jemaah haji yang kini telah mendapatkan pesan-pesan kemanusiaan di Arafah seyogyanya setelah mereka kembali ke tanah air bersedia menjadi duta Arafah guna menyebarkan pesan kebangsaan dan kedamaian di bumi Indonesia. Adalah ironis bila kepulangan mereka dari kota suci tidak menyebarkan pesan-pesan kedamaian dan kemanusiaan malah justru menjadi juru penebar dendam dan kerusuhan. Nauzubillah! (*)

*Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten

- Advertisement -

TERBARU

Jokowi: Ibukota Baru di Antara Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara

Kastara.ID, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi mengumumkan lokasi calon ibu kota baru berada di antara Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten...