Ketika Senator Ngopi Bareng di Senayan

Ngopi Bareng

Kastara.id, Jakarta – Wakil Ketua DPD Nono Sampono mengatakan, Indonesia merupakan negara yang kaya akan berbagai macam jenis kopi. Sebagian besar belum banyak dikenal masyarakat. Sebagian lainnya malah sudah dikenal dunia.

“Kita angkat kopi daerah ke pentas dunia,” kata Nono Sampono dalam Talk Show Ngopi Bareng Senator yang diinisiasi oleh KADIN yang bekerja sama dengan DPD RI dengan mengangkat tema “Kopi Daerah Indonesia, Kopi Dunia”, di gedung parlemen, Rabu (14/3).

Menurut Nono Sampono, kegiatan itu selaras dengan tugas dan fungsi DPD RI dalam mengawal dan memperjuangkan aspirasi masyarakat dan memajukan kesejahteraan umum, termasuk pada kesempatan ini melalui promosi kopi daerah ke pentas dunia.

Selain wujud perhatian DPD RI terhadap peningkatan usaha ekonomi rakyat daerah, menurut Nono, kegiatan ini juga sebagai tindak lanjut MoU yang telah ditandatangani oleh DPD RI dengan KADIN pada tanggal 21 Juli 2017.

Baca Juga:  DPD Kecewa Freeport Belum Sepakati Sengketa Pajak Air Permukaan

Di beberapa daerah, kita memiliki citra rasa kopi yang sangat terkenal dan berkualitas di dunia, yakni kopi luwak yang dikenal sebagai kopi yang paling mahal di dunia dan kopi Mandailing. Kopi ini diekstrasi dari biji kopi yang telah melalui sistem pencernaan musang atau luwak.

DPD RI yang bekerja sama dengan KADIN pada kesempatan ini mengangkat kopi kopi daerah Indonesia yang belum banyak dikenal secara luas. Seperti potensi kopi dari Agam Sumatera Barat yang disebut sebagai Ameh Hitam dari Agam, kopi dari Aceh Selatan, dan kopi dari Toraja Utara.

Lebih jauh Nono mengatakan, bicara tentang kopi adalah bicara tentang peradaban dan kebudayaan. Kopi adalah jenis minuman yang penting bagi sebagian besar masyarakat di seluruh dunia.

Baca Juga:  Poros Maritim Tak Terwujud Jika Kepulauan Masih Tertinggal

“Bukan hanya karena kenikmatan konsumen peminum kopi namun juga karena nilai ekonomis bagi negara-negara yang memproduksi dan mengekspor biji kopi, seperti halnya negara kita Indonesia,” katanya.

Menurut Nono, saat ini kopi sudah merupakan bagian dari gaya hidup. Ini terbukti dengan tumbuhnya gerai-gerai kopi mulai dari kedai kaki lima sampai ke kafe bintang lima. “Ini menunjukkan bahwa kopi sudah menjadi bagian perdaban dan kebutuhan manusia modern dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial,” jelasnya.

Keadaan produksi kopi Indonesia saat ini, menempati peringkat ketiga terbesar di dunia dari segi hasil produksi. Produksi kopi per hektar Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara-negara utama penghasil kopi lainnya.

Baca Juga:  DPD RI Sahkan Pertimbangan RAPBN 2019

Data statistik di tahun 2015, Indonesia memproduksi 741 kilogram biji robusta per hektar dan 808 kilogram biji arabika per hektar. Di Vietnam, angka ini mencapai 1.500 kilogram per hektar dan di Brazil mencapai 2.000 kilogram per hektar.

Walaupun produksi kopi kita berada pada tiga besar dunia, ini bukanlah suatu hal yang menggembirakan. “Jika ditelisik dari sejarah panjang keberadaan, peranan dan pertumbuhan perkebunan kopi di Indonesia, harusnya kita yang berada di garis khatulistiwa, daerah tropis yang sangat cocok untuk tumbuh kembangnya kopi, bisa menjadi pemasok kopi nomor satu di dunia,” katanya. (danu)