Waspadai Desain di Balik Isu Kecurangan

Pemilu 2019
Oleh: Erros Djarot

MENJELANG hari H yang tinggal belasan jam ke depan, tensi di dua kubu pendukung Paslon 01 maupun 02, semakin meninggi. Ketegangan kali ini lebih diwarnai oleh manuver saling tuding seputar adanya temuan sejumlah kecurangan. Kubu 01 menuding kubu 02 yang masif melakukan kecurangan. Sementara kubu 02 menangkis tuduhan dengan menuduh balik kubu 01 lah yang berpotensi melakukan kecurangan. Alasannya karena sebagai kubu petahana seluruh akses terbuka untuk kubu 01 melakukan rekayasa kecurangan lewat operasi intelijen yang dikuasainya.

Kasus yang terpanas ketika pada salah satu ruko di Kuala Lumpur, Malaysia, ditemukan puluhan kantong plastik berisikan kartu suara yang sudah dicoblos. Pencoblosan liar ala siluman ini seakan menjadi bagian operasi bawah tanah yang bertujuan mendongkrak perolehan suara untuk paslon dan caleg tertentu. Pasalnya coblosan terarah pada target Paslon 01 dan Caleg partai Nasdem dapil Jakarta yang kebetulan merupakan putra Dubes RI di negeri Jiran ini. Kontan kubu 02 lewat sejumlah teori konspirasi menjabarkan kemungkinan besar kecurangan dilakukan oleh pihak petahana yang menguasai seluruh jalur resmi institusi negara untuk melakukan apa saja, termasuk melakukan kecurangan. Sementara kubu 01 malah menuduh kubu 02 sebagai perekayasa kecurangan ini. Alasannya singkat saja, terlalu mudah dibaca sebagai murni rekayasa!

Baca Juga:  Pangdam Jaya dan Kapolda Metro Kunjungi Kantor KPU

Masih banyak lagi peristiwa saling tuding melakukan kecurangan di berbagai negara di mana warga Indonesia sudah memulai pencoblosan lebih awal. Namun dalam hal ini, simpang siurnya versi pemberitaan tentang apa yang sebenarnya terjadi, secara pribadi saya malah menjadi tertarik untuk mencoba membaca apa sebenarnya yang terjadi di balik ini semua. Satu hal yang pasti, semua kericuhan dan kegaduhan saling tuduh ini merupakan cerminan bahwa masing-masing kubu sudah saling meyakini bahwa kemungkinan menang sudah begitu tinggi. Tidak sedikit pun ruang tersisa untuk mengantisipasi kemungkinan menerima kekalahan. Sehingga berbagai alibi diciptakan agar siapa pun yang akan ke luar sebagai pemenang, kuat alasannya untuk digugat.

Itulah sebabnya, kemenangan dengan selisih yang signifikan merupakan salah satu solusi untuk meredam kemungkinan konflik berkepanjangan. Perolehan suara dengan selisih yang begitu tinggi, apalagi mencapai dobel digit, akan membuat Mahkamah Konstitusi tidak perlu bekerja keras. Massa pendukung fihak yang kalah pun kehilangan alasan dan gairah untuk melakukan tuntutan. Kecuali para petinggi (elite) di tim kampanye pihak yang kalah, dipastikan akan tak mau begitu saja menerima kekalahan. Apalagi masalah IT yang konon bisa merekayasa angka perolehan suara, dipastikan akan menjadi bahan melakukan tudingan akan adanya praktik kecurangan.

Baca Juga:  Indikasi Serangan Teror, Masyarakat Diminta Tak Ikuti Aksi 22 Mei

Yang perlu diwaspadai mulai dibangunnya alibi yang memungkinkan dilakukannya pengerahan massa besar-besaran untuk turun ke jalan melakukan protes. Bahkan yang lebih penting lagi adanya desain gerakan yang sengaja menjuruskan kerumunan massa yang marah ke arah terjadinya kerusuhan. Ancaman yang sudah ditanam sebagai signal awal, telah dilontarkan oleh seorang petinggi institusi politik yang dikenal memiliki dukungan massa yang siap berjihad turun ke jalan. Belum lagi penunggangan oleh pihak yang mempunyai kepentingan lebih besar (global). Mereka tentunya memang menginginkan terpecah dan hancurnya Indonesia. Seperti terjadi di sejumlah negara di Kawasan Timur Tengah, contoh ekstrimnya Suriah.

Di luar dari kubu petahana, para elite politik yang bermain api ini sangat mudah ditengarai siapa-siapa, dari mana ia berasal, dan di mana mereka berada. Sebaliknya siapa-siapa di pihak petahana yang dalam kedudukannya berpeluang melakukan kecurangan, pun sudah sangat mudah untuk dapat dibaca. Sehingga pengawasan terhadap mereka inilah yang bisa menjadi kunci terwujudnya pemilu yang berjalan damai, karena minus kecurangan dan intimidasi. Dengan asumsi bahwa rakyat Indonesia adalah bangsa yang cinta damai. Mereka hanya menjadi beringas ketika diprovokasi dan dibakar berbagai isu kebohongan; atau tidak adanya keadilan memang sudah tak terbantahkan lagi.

Jadi, untuk mewaspadai terjadinya kecurangan, salah satunya adalah kerja pengawasan terhadap perilaku dan kinerja para elite partai dan para petinggi di instiusi negara terkait yang terlibat dalam kegiatan kampanye. Rakyat dengan penampilan sesangar apa pun, pada dasarnya tetap merupakan kumpulan massa yang cinta damai dan secara natur senang berguyup rukun bergaul. Sehingga ricuh dan tidaknya pemilu-pilpres sangat tergantung kepada tingkat kearifan para elite di negeri ini.

Baca Juga:  Pendukung Prabowo Diminta Tak Hadir ke MK Saat Sidang

Sebaiknya, siap untuk menang, harus pula bersiap untuk kalah. Mengajarkan massa rakyat ‘How to be a good looser-menerima kekalahan dengan sportivitas tinggi’ di satu sisi, dan ajaran local wisdom ‘menang tanpa ngasorake– menang tanpa merendahkan derajat lawan’ di sisi lain. Anjuran indah ini merupakan hal yang mendesak harus disosialisasikan ke masyarakat oleh para elite partai, para pemuka agama, para tokoh masyarakat, para intelektual-budayawan, dan para petinggi negara!

Tingkat kearifan dan kesadaran menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara secara baik dan benar, adalah ujian paling besar yang ada di depan mata mereka. Karenanya mewaspadai sesuatu di balik isu kecurangan, merupakan kerja yang bersifat mendesak untuk dilakukan secara cerdas dan intensif, dalam beberapa hari ke depan ini! Tentunya secara bersama dalam semangat kebersamaan merawat keutuhan NKRI tercinta! (watyutink/*)