Beranda Headline Berita Humor Aroma Horor

Humor Aroma Horor

Oleh: Jaya Suprana

PADA suatu hari saudara sepupu saya, Nugroho Suprana, berbagi sebuah kartun tentang seorang hakim negara anggota Commonwealth (sebab mengenakan rambut palsu lucu) yang sedang menghakimi seorang warga berwajah cemas campur bingung akibat sang hakim berambut palsu mirip rambut palsu Wolfgang Amadeus Mozart itu bersabda  “You do realise that exposing illegal things your government has been doing is illegal?”

Ilegal

Menarik adalah fakta bahwa meski sang hakim (seolah) bertanya, namun dengan meletakkan kata “do” di belakang “you” maka berarti pertanyaan sang hakim lebih merupakan pernyataan yang tidak boleh dijawab apalagi dibantah.

Meski dengan risiko kemusnahan roh kelucuannya, mohon dimaafkan saya mencoba menerjemahkan sang pernyataan sang hakim ke dalam bahasa Indonesia menjadi kira-kira sebagai berikut, “Kamu (harus) sadar bahwa mengungkap hal-hal ilegal yang (telah, sedang, dan akan) dilakukan oleh pemerintahmu adalah perilaku ilegal?” Tanda tanya sengaja tidak saya ganti menjadi tanda seru demi mempertahankan otentitas suasana kontradiktif di dalam kartun humor aroma horor itu!

Pemelintiran Logika

Sebagai peneliti humorologi serta pendiri Perhimpunan Pencinta Humor yang sampai kini belum juga berhasil mengungkap misteri yang menyelubungi makna apa yang disebut sebagai humor, saya terpesona oleh kartun yang menurut saya sudah bisa disebut sebagai mahakartun itu.

Mahakartun tentang mahahakim Commonwealth sebab berambut palsu mahalucu itu secara mahaluarbiasa terlalu mahalucu mengungkap pemelintiran logika, demi melindungi pemerintah yang sangat berkuasa, sehingga mampu mendayagunakan hukum untuk menutup-nutupi tindakan-tindakan melanggar hukum yang telah, sedang, dan akan dilakukan.

Doa

Sebagai warga Indonesia, saya bersyukur hakim Indonesia tidak pakai rambut palsu lucu, maka dapat diyakini adegan kartun humor aroma horor itu bukan terjadi di Indonesia.

Tidak ada warga Indonesia yang mengkritik tindakan ilegal penguasa malah didakwa ilegal, sebab Indonesia adalah negara hukum yang adil dan beradab. Mustahil polisi Indonesia tega menangkap warga yang mengkritik penguasa sebab penguasa Indonesia senantiasa arif bijaksana legowo terbuka menerima kritik demi senantiasa menyempurnakan diri dalam upaya mengabdikan diri bagi negara, bangsa, dan rakyat Indonesia.

Alih-alih lebih lanjut memubazirkan enerji lahir-batin dengan sok menganalisa humor aroma horor pada kartun hakim berambut palsu lucu gaya Georg Friederich Haendel maka pasti bukan hakim Indonesia itu, saya mematuhi sila Ketuhanan Yang Maha Esa dengan memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar adegan humor campur horor yang ditampilkan kartun hakim itu jangan sampai terjadi di persada Nusantara yang sangat saya cintai ini.

Aamiin. (*)

* Penulis adalah rakyat Indonesia yang sangat cinta Indonesia.

- Advertisement -

TERBARU

PAN: Stafsus Penggemukan Birokrasi, Fahri Hamzah: Etalase Digital

Kastara.ID, Jakarta - Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Saleh Partaonan Daulay menyebut pengangkatan jajaran staf khusus (stafsus) presiden Joko Widodo (Jokowi)...